SELAMAT MALAM

Ini adalah blog untuk kumpulan catatan-catatan saya. Tanggal yang tertera di atas teks bukanlah tanggal di mana catatan itu ditulis atau dipublikasikan, tetapi itu adalah waktu saya meng upload catatan tersebut. Banyak catatan yang sudah lama yang baru saya upload dalam blog yang sempat terbengkalai ini. Sebisa mungkin akan saya terakan tanggal dan dimana catatan tersebut dipublikasikan, semampu file saya menyediakan datanya.

Rain Rosidi

Saturday, April 30, 2011

ANTI SUPERHERO NANO WARSONO

Amerika adalah ‘luar negeri’ yang paling sering muncul di televisi kita. Bahkan di era TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia, film-film Amerika mendominasi hampir setiap acara film. Setiap sore hari, anak-anak akan menunggu di depan televisi untuk menyaksikan film-film kartun dari Walt Disney, film superhero semacam Superman, Batman, Spiderman, Fantastic Four, dan jagoan-jagoan Amerika lainnya. Begitu juga dengan film-film di bioskop. Film-film Holywood menjadi santapan sehari-hari penggemar film di Indonesia.

Marshall Mcluhan dengan konsep Global Villagenya meyakini bahwa persebaran teknologi media di seluruh dunia akan menciptakan sebuah skenario global, di mana seluruh makhluk di planet ini adalah ‘benar-benar satu keluarga’. Optimisme ini menggemakan keyakinan para modernist di awal abad 20, sebagaimana retorika kaum hippies di akhir 1960an. Akan tetapi perbedaan penguasaan teknologi yang tidak merata di seluruh dunia memberikan peluang terciptanya bentuk imperialisme baru, yaitu imperialisme budaya dan media. Ruth Pelzer memberikan argumentasi bahwa gagasan mengenai ‘global extension’ menjadi konsep kunci untuk mendiskusikan landscape media kontemporer. Kehadiran jalur-jalur media massa yang sama di berbagai negara menghasilkan lalu lintas muatan media di antara berbagai negara itu, sehingga menggerus batas-batas nasional. Erosi itu tergantung dari masing-masing negara, karena produksi dan distribusi muatan media membutuhkan kemampuan finansial yang cukup. Sebagai contoh kemudian terjadi apa yang disebut bentuk imperialism budaya dan media, dimana term globalisasi bisa disebut juga sebagai ‘Amerikanisasi’ (Glyn Davis, 2005).

Dunia imajinasi anak-anak kita juga disuguhi oleh bermacam karakter ikonik para superhero melalui komik-komik dan kartun Amerika. Disney adalah salah satu dari ‘one of the world’s most powerful media corporations’. Disney membangun citranya dengan mengambil cerita dari seluruh dunia dan mengembalikannya ke pasar global sebagai sebuah strategi untuk mebangun citra cultural Disney, yang bukan hanya sebuah korporasi Amerika, tetapi menjadi sebuah korporasi dunia (Wayne, 2003). Film-film seperti Pocahontas, Alladin, Mulan, Hunchback of Notre Dome dirilis sebagai sebuah penggambaran budaya dunia.

Di masa kanak-kanak saya, tokoh-tokoh superhero yang saya kenal adalah tokoh-tokoh superhero bikinan DC Comics dan Marvel. Superman adalah salah satu favorit saya, yang juga menjadi teman saya dalam belajar menggambar komik. Saya sangat hapal, bagaimana gesture pahlawan kota Metropolis itu saat dia sedang terbang, dengan badannya yang gagah, dan jubahnya yang berkibar. Gerakan-gerakan itulah yang saya pergunakan untuk saya tiru dalam membuat komik-komik saya sendiri. Hobby saya dalam membaca komik, terutama superhero tersalurkan oleh kesukaan bapak saya dalam membelikan oleh-oleh berupa buku komik. Walaupun kebanyakan komik bekas, tetapi kedatangan bapak saya dari luar kota selalu saya tunggu-tunggu oleh-olehnya itu.

Saya pun sempat mengalami masa-masa ‘akhir kejayaan’ komik Indonesia. Di kota Muntilan, tempat masa kecil saya, ada sebuah tempat penyewaan komik yang berlokasi di terminal bis. Di tempat itulah saya menghabiskan waktu berjam-jam setelah pulang dari sekolah. Saya sempat membaca komik-komik silat buatan Jan Mintaraga, Jair Wani, Teguh Santoso, dan sebagainya. Salah satu yang menjadi favorit saya waktu itu adalah Godam, karya Wid NS, yang segera mengingatkan saya pada tokoh Superman. Konteks lokalnya yang menjadikan komik Godam itu menarik bagi saya. Awang, identitas lain si superhero Godam adalah seorang sopir yang banyak bekerja di sekitar kota Yogyakarta. Selain itu, saya juga selalu mengikuti film-film Superman yang beredar di bioskop kota kami. Beramai-ramai, saya sekeluarga dan teman-teman diajak bapak saya menonton film-film itu. Saya ingat, pada waktu malam ujian sekolah, saya diajak bapak saya menonton film Supergirl di bioskop Kartika Muntilan.

Semenjak sekolah menengah, persinggungan saya dengan komik menjadi berkurang. Ditambah lagi kemunculan komik-komik Jepang yang berbeda dengan karakter-karakter superhero Amerika yang saya sukai. Karena berpindah-pindah tempat selama sekolah dan kemudian berkuliah, buku-buku komik saya lenyap entah kemana. Sebagian rusak karena lalainya masalah perawatan. Sebuah bendelan buku komik Superman klasik yang didapatkan oleh bapak saya di loakan turut hilang entah kemana. Padahal buku komik itu yang banyak mempengaruhi ketertarikan saya pada dunia seni visual.

Nano Warsono dan lukisan komiknya

Tiba-tiba saya bertemu kembali dengan tokoh-tokoh superhero itu dalam karya-karya lukisan teman saya, Nano Warsono. Lukisan-lukisan karya Nano Warsono terkini banyak mengambil karakter-karakter tokoh superhero Amerika itu. Saya lalu berbagi cerita dengan seniman itu. Nano pun seperti saya, sampai saat ini masih terpukau oleh keajaiban dunia cerita komik. Kami sama-sama menyukai gaya visualisasi karya komikus dari Marvel dan DC Comics, terutama yang klasik. Ketertarikan Nano yang lainnya adalah pada bagaimana komik turut mengkostruksikan siapa tokoh pahlawan dan siapa penjahat. Pada sisi inilah justru tokoh-tokoh superhero Nano Warsono menjalani fungsi kritisnya.

Setelah berjarak cukup lama dengan para tokoh superhero itu, pada masa ini, kami menjadi bersikap kritis terhadap apa yang dihadirkan di balik kehebatan para pembela kebenaran itu. Nano Warsono adalah rekan saya yang lebih mendalami persoalan komik ketimbang saya. Salah satu pengaruhnya semasa kuliah di ISI Yogyakarta adalah kelompok Apotik Komik. Kelompok ini diinisiasi oleh sekumpulan seniman yang lebih memilih media-media alternative untuk mengekspresikan karya seninya. Mereka membuat mural, komik indie, dan karya-karya seni rupa di ruang publik. Dalam bidang komik, mereka cenderung mengambil referensi komik-komik alternatif baik yang muncul di Eropa maupun Amerika, seperti Raw Comix, Zap, dan Weirdo. Komik-komik itu mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan komik-komik mainstream seperti keluaran DC dan Marvel. Komik-komik alternatif ini tidak menampilkan tokoh hero dan penjahat sebagaimana umumnya, namun lebih banyak mengakomodasi cerita-cerita yang muncul dari dunia underground itu sendiri. Seperti seks, kekerasan, anti hero, musik, dan sebagainya.

Saya mengenal Nano Warsono sebagai anak muda yang mempunyai pemikiran kritis dan berkembang dalam lingkungan seni yang bukan mainstream. Untuk itulah, saya agak takjub ketika dia mulai menunjukkan karya-karyanya yang berupa sekumpulan citra-citra superhero yang berkumpul jadi satu. Nano bersikap ambivalen terhadap komik-komik itu, mengagumi tapi sekaligus mengkritisinya. Salah satu narasi besar yang disuarakannya adalah mengenai barat dan timur. Dalam bukunya Sign Fiction (Warsono, 2009), Nano Warsono menyatakan bahwa: “realitas dunia sekarang bagi saya, terlebih dunia timur yang pernah dijajah/colonialized, banyak menginspirasi saya untuk menampilkan metafor tokoh-tokoh dari dunia superhero/komik/film Barat mamupun tokoh-tokoh fairy tales dunia Barat. (Realitas itu) menjadi isu-isu yang aktual yang dikaitkan dengan isu lokal maupun internasional yang sebenarnya bermuara pada pandangan yang skpetik Barat mengenai Timur dan sebaliknya…”

Gagasan Barat dan Timur dalam lukisan Nano mengisyaratkan bahwa dalam realitas kekinian pun kita tidak bisa kebal dari mitos-mitos keunggulan Barat. Pengalaman pahit bangsa yang pernah terkolonisasi di masa silam selalu bergaung kembali dalam bentuk-bentuknya yang bermacam-macam. Barat lah yang unggul karena mereka menemukan Timur, dan Timur dalam kondisi ini maknanya hanya bisa dipikirkan melalui kerangka induk sejarah yang diciptakan oleh Barat.

Dikotomi antara Barat dan Timur itu sekaligus menyimpan hegemoni. Dalam bukunya, Leela Gandhi menyebutkan mengenai “Theoria” (ilmu pengetahuan universal) yang dimiliki oleh Barat. Theoria ini merupakan sumur terdalam bagi suatu eksistensi, mengandaikan hadirnya sang subyek yang menyandang nama “cogito” (sang aku yang berpikir). Sejalan dengan Foucault mengenai rasionalitas Barat, maka segala sesuatu yang tak terpikirkan dalam “cogito”, hanya menjadi sinonim bagi “yang lain” (Gandhi, 1998). Asumsi keunggulan suatu budaya atas budaya yang lain mengidap hasrat penguasaan dunia. Yang ada kemudian adalah antara ‘the world and the rest’. Di luar pandangan yang total, maka yang tersisa (the rest) harus dikosongkan dari makna.

Dari konteks inilah lukisan komik Nano ditawarkan pemaknaannya. Saya menyebutnya sebagai lukisan komik. Karena lukisan Nano adalah manifestasi lain dari komik-komik yang pernah dibuatnya. Menurut saya, lukisannya adalah sepenggal komik dalam wadah satu panel. Ada karakter-karakter rekaan di dalamnya, dan ada adegan-adegan narasinya. Seringkali lukisannya menjadi penuh oleh karakter-karakter itu dan penuh pula dengan adegan interaksi di antara tokoh-tokohnya.

Saya akan memberikan tiga buah contoh karyanya untuk kita lihat bersama-sama. Saya mengambil tiga karakter superhero populer yang muncul dalam lukisan-lukisan Nano tersebut; yaitu Batman, Spiderman, dan Superman. Ketiganya adalah superhero yang paling popular dalam ranah komik dan film di dunia.

Batman

Lukisan pertama yang akan kita telaah adalah sebuah lukisan berjudul: Badman Forever (2009). Sebuah lukisan berbahan cat akrilik di atas kanvas. Dalam ingatan saya, Batman adalah seorang tokoh pembela kebenaran yang banyak bekerja di malam hari. Jiwa kelelawarnya membuatnya misterius, gelap, dan kadang-kadang menyeramkan.

Sebuah adegan perkelahian antara Batman dengan Aladin. Dalam lukisan ini, Aladin yang sedang memeluk Yasmin, terlihat sedang menerima pukulan yang sangat keras dari Batman. Di sini Batman menjadi ambigu, apakah dia seorang antagonis, ataukah protagonis? Antara penjahat dan hero tidak lagi bisa ditentukan dengan jelas.

Lukisan pertama yang akan kita telaah adalah sebuah lukisan berjudul: Badman Forever (2009). Sebuah lukisan berbahan cat akrilik di atas kanvas. Dalam ingatan saya, Batman adalah seorang tokoh pembela kebenaran yang banyak bekerja di malam hari. Jiwa kelelawarnya membuatnya misterius, gelap, dan kadang-kadang menyeramkan.

Sebuah adegan perkelahian antara Batman dengan Aladin. Dalam lukisan ini, Aladin yang sedang memeluk Yasmin, terlihat sedang menerima pukulan yang sangat keras dari Batman. Di sini Batman menjadi ambigu, apakah dia seorang antagonis, ataukah protagonis? Antara penjahat dan hero tidak lagi bisa ditentukan dengan jelas.


Spiderman

Karya yang lain adalah sebuah karya berjudul: Saving Private Blonde Hair (2009). Karya lukisan yang menggunakan bahan akrilik di atas media kanvas ini menggambarkan sebuah adegan penyelamatan seorang gadis pirang dari kejaran King Kong. Lukisan ini berdasarkan cerita Kingkong dalam film Hollywood berjudul King Kong. Anehnya dalam adegan lukisan ini terdapat pula tokoh Spiderman dan Pinokio.

Kalau dalam versi filmnya (King Kong, Peter Jackson, 2005), King Kong adalah sejenis gorilla raksasa dari Skull Island (konon merupakan sebuah pulau di dekat Sumatra) yang dipuja oleh masyarakat setempat seperti dewa. Kemudian datang sekelompok orang dari Amerika yang berhasil membiusnya dan membawanya ke New York. King Kong tersebut berhasil meloloskan diri dan kemudian mencari Ann Darrow, seorang gadis berambut pirang yang ditemuinya di Skull island sebelum dia tertangkap. Dalam adegan terakhir, King Kong membawa si gadis ke puncak Empire State Building, dan kemudian dalam sebuah adegan dramatis, King Kong tewas dihujani tembakan oleh sepasukan tentara, dengan diiringi tangis duka lara si gadis.

Dalam lukisan Nano, adegan terakhir kisah perjalanan King Kong di New York itu menjadi berbeda dari versi umum. Kita dibawa oleh Nano untuk memandang si King Kong dari sudut pandang yang sangat ‘high angle’. Sementara tokoh-tokoh yang lain, yaitu Pinokio dan si gadis berambut pirang berada dalam posisi yang dekat dengan angle kita. Dari posisi ini nampak bagaimana King Kong memperoleh posisi yang sangat ter-subordinat di antara tokoh-tokoh lainnya. Belum lagi ukuran si King Kong dalam bidang kanvas Nano, sangat kecil dibandingkan figur-figur lainnya. Biasanya Nano menentukan ukuran masing-masing karakter dalam lukisannya bukan berdasarkan hukum perspektif. Ada figur-figur yang walapun berada jauh dengan sudut pandang kita, namun berukuran lebih besar ketimbang yang berada di depannya. Nanti akan kita lihat dalam lukisan lain, bagaimana hukum perspektif ini diabaikannya. Tetapi dalam lukisan ini, si Kingkong tetap dalam keadaan yang sangat jauh dan sangat kecil. Ditambah lagi ekspresi wajah si King Kong yang terlihat konyol dan tidak berdaya.

Dalam Orientalisme Said menulis: “Orang timur dikatakan irasional, bejad moral, kekanak-kanakan, “berbeda”; jadi orang Eropa adalah rasional, berbudi luhur, dewasa, “normal”… “Dalam bahasa Cromer dan Balfour, orang Timur dituliskan sebagai ‘yang diadili’ (seperti dalam mahkamah hukum), yang dikaji dan dipaparkan (seperti dalam kurikulum), orang yang didisiplinkan (seperti di sekolah atau penjara), sesuatu yang diilustrasikan (seperti dalam buku pegangan zoology)” (Edward Said, 1978). Sebuah pandangan yang menurut Said muncul dari kerangka berpikir orang Barat. Kalau kita melihat tokoh King Kong dalam lukisan Nano, segala pandangan orientalisme Barat tentang Timur itu seperti diletakkan di bahu sang King Kong. Nano menegaskan kembali apa yang sebenarnya sudah tersembunyi dalam kisah King Kong itu. King Kong adalah makhluk yang mewakili ‘makhluk yang berbeda’ dari Timur, yang irasional, ganas, kekanak-kanakan dan perlu ditertibkan. Dan Barat adalah kecantikan yang sempurna dari si tokoh blonde yang dicintai oleh King Kong. Barat adalah sekaligus kekuatan yang mampu menaklukan si liar dari Timur.

Yang berbeda kemudian adalah tokoh Pinokio dan Spiderman dalam lukisan itu. Pinokio digambarkan sedang dalam keadaan panjang hidung, dalam arti sedang melakukan kebohongannya, dan dengan muka yang terlihat licik. Terlihat pada penggambaran matanya yang melotot, dan senyumannya yang jahat. Peran Spiderman dalam lukisan itu berada di tengah-tengah. Namun posisinya yang melirik ke arah penonton, dengan topengnya yang terkoyak memperlihatkan sisi lain dari sang pembela kebenaran itu. Apalagi di tangannya tergenggam segepok uang dolar.

Untuk mengetahui mengapa Nano meletakkan Spiderman sang jagoan itu dalam lukisan yang ‘aneh’ ini, marilah kita lihat sebuah petikan dialog yang terkenal dalam film Spiderman: "With great power comes great responsibility" (Spiderman, 2002). Dialog ini adalah ucapan sang paman sebelum meninggal dunia kepada Peter Parker (identitas lain dari Spiderman) yang kemudian dirapalkan kembali oleh sang Spiderman tatkala mengalami kegalauan perihal peran dan posisi dia sebagai manusia ‘adi’ dalam masyarakatnya. Spiderman memperoleh kekuatan supernya setelah digigit oleh seekor laba-laba mutant hasil eksperimen ilmiah. Dari gigitan itu, dia memperoleh kekuatan luar biasa yang kemudian membuatnya mempunyai tanggung jawab besar untuk membela keadilan semua orang. Yang menjadi unik dari Spiderman dibandingkan superhero-superhero lain sejenisnya adalah begitu sentralnya kegalauan Peter Paker dalam menghadapi peran dirinya sebagai manusia super tersebut. Sebuah peran yang akan mengorbankan orang-orang di sekitarnya, termasuk paman, bibi, dan yang selalu dia perjuangkan, MJ, sang gadis pujaan.

Tanggung jawab sebagai pembela kebenaran itulah yang membuat sang Spiderman melakukan campur tangan terhadap berbagai persoalan di masyarakat. Dalam konteks lukisan ini, sang Spiderman menjadi tokoh ketiga dalam perseteruan antara King Kong dan Pinokio dalam memperebutkan si gadis berambut pirang. Uang yang digenggamnya menunjukkan di pihak mana sang Pahlawan menempatkan diri, yaitu penguasa kapital. Spiderman adalah adi manusia yang berhak dan berkewajiban menjadi polisi dunia dan menyeselsaikan berbagai konflik. Dia merepresentasikan superpower Amerika. Lalu atas dasar apa dia menyatakan mana yang benar dan mana yang salah? Nano menjawabnya melalui berlembar-lembar uang dolar yang berada dalam genggaman sang superhero.

Superman dalam “I have slept for an hour, and I wake up in the ahistory land”

Lukisan ini lebih kompleks dibandingkan dua lukisan sebelumnya. Dalam panel kanvas, kita temukan lebih banyak karakter. Superman, dinosaurus, Doraemon, figur kekar berkepala emoticon Yahoo!, Semar, dan sesosok figur besar.

Kalau menengok dari judul yang diterakan oleh Nano pada karya ini, tokoh yang merepresentasikan sang ‘aku’ adalah sosok figur besar yang sedang memeluk kacang. Sosok ini adalah ‘aku’ yang baru saja terbangun dari tidur selama satu jam, yang segera mendapati dirinya berhadapan dengan dunia yang ahistoris. Lukisan ini tidak menggunakan logika perspketif biasa. Ukuran besar kecil bukan untuk mempersoalkan jarak, tetapi lebih untuk memberikan penekanan.



Superman dalam lukisan ini digambarkan sebagai sosok bermata satu dan sedang memeloti sang ‘aku’. Dia menjadi bagian dari sebuah lingkungan figur-figur yang sedang mengelilingi ‘aku’. Lingkungan yang mengelilingi ‘aku’ itu adalah ikon-ikon popular dari berbagai media, seperti ikon yahoo, tokoh kartun Jepang Doraemon, dinosaurus, dan tokoh wayang Semar.

Dalam lukisannya yang terakhir tersebut, Nano memperlihatkan sebuah public sphere baru yaitu media baru, yang begitu cepat menciptakan perubahan. Pada saat itu, dia merasa potensi untuk bertemunya beragam kultur dapat termediasikan. Tapi di sisi lain, keterbatasan dunia Timur dalam mengejar ketertinggalannya, menjadikannya sebagai sosok yang tersiksa dan memilih untuk tetap tertelungkup sambil memeluk sebutir kacang. Mungkin itu satu-satunya yang tersisa dari dunia Timur, sebutir kacang, yang anda dapat memaknainya sebagai apa saja.

Lukisan Nano menegaskan kembali frasa katagoris Timur dan Barat, dan sekaligus mempersoalkannya secara kritis. Nano Warsono melakukan ‘mockery’ terhadap barat, dengan menggunakan ‘teks’ barat yang justru untuk mengolok-olok cara pandang itu. Dalam aspek ini, Nano seperti melakukan versi lain dari ‘orientalisme’nya Edward Said. Kalau Edward Said memulai memeriksa teks-teks sastra Barat untuk melihat Timur, maka Nano membongkar teks-teks barat dalam ranah dunia komik, dan melakukan ‘oksidentalisme’ terhadapnya; timur yang memandang barat.

Daftar Pustaka:

Davis, Glyn, 2005. From Mass Media to Cyberculture dalam Exploring Visual Culture (ed. Rampley, matthew). Edinburg: Edinburg University Press.

Gandhi, Leela, 1998. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Barat (terjemahan: Yuwan Wahyutri dan Nur hamidah). Yogyakarta: Qalam.

Said, Edward W., 1978. Orientalisme (terjemahan: Asep Hikmat). Jakarta: Penerbit Pustaka.

Warsono, Nano, 2009. Sign Fiction. Magelang: Langgeng Gallery

Wayne, Mike, 2003. Marxism and Media Studies. London: Pluto Press.

No comments: