SELAMAT MALAM

Ini adalah blog untuk kumpulan catatan-catatan saya. Tanggal yang tertera di atas teks bukanlah tanggal di mana catatan itu ditulis atau dipublikasikan, tetapi itu adalah waktu saya meng upload catatan tersebut. Banyak catatan yang sudah lama yang baru saya upload dalam blog yang sempat terbengkalai ini. Sebisa mungkin akan saya terakan tanggal dan dimana catatan tersebut dipublikasikan, semampu file saya menyediakan datanya.

Rain Rosidi

Wednesday, December 05, 2012


KABINET KOMIK "indie"
(Indigenos Comiczine 31 Mei 2001)
RAIN ROSIDI

Seperti sejarah seni yang lain, sejarah komik dirunut melalui "komik-komik besar". Tetapi sebagaimana sifatnya yang secara stereotipe dianggap sebagai bacaan negatif bagi anak sekolah (terutama di Indonesia), komik selalu menjadi seni pinggiran. Tentu saja hal ini menjadikan sehebat apapun seorang komikus di dunianya, tetap tidak terlalu mendapat tempat di dunia seni secara keseluruhan.

Tradisi bercerita atau 'mengatakan' dengan gambar sudah ada sejak zaman prasejarah. Di prasejarah Indonesia, misalnya dapat ditemukan pada gambar-gambar spiritual di gua leang-leang. Dan di awal sejarah, muncul dengan wujud seperti wayang beber dan wayang kulit. Pada wayang kulit, komunikasi lewat media gambar itu juga dibangun dengan cara-cara yang animatif(memanfaatkan bayangan dan visual efek lewat cahaya dari lampu), dan bahkan teatrikal.
Jejak komik modern yang dapat dirunut di Indonesia adalah munculnya karakter Put On di media Sin Po. Tokoh komik yang lucu ini segera diikuti oleh beberapa karakter lain yang muncul belakangan. Lalu beberapa pahlawan diciptakan, yang kadang-kadang secara jelas menunjukkan keterpengaruhannya dengan pahlawanpahlawan komik Amerika. Seperti "Kapten Komet'yang mengingatkan kita pada citra Flash Gordon. Atau Gundala Putra Petir dengan The Flash. Juga Sri Asih, superman perempuan asal Indonesia.
Sebagai cabang kesenian, komik berkutat pada dua sisi aspek media yaitu media teks dan rupa. Oleh karena itu disebut pula komik sebagai sastra gambar. Menurut F. Lacassin komik menjadi sarana pengungkapan yang benar-benar orisinil karena menggabungkan antara gambar dengan teks tersebut.
Karena kedekatannya dengan publik penikmatnya (komik dianggap sebagai seni'waktu luang", seperti teka-teki silang), membuatnya tidak lepas dari kondisi masyarakat. Komik adalah seni populer, yang tidak masuk dalam seni adiluhung, hanya bisa didapat di pinggir-pinggir jalan, dan bukan di perpustakaan nasional atau di sekolah-sekolah.
Sebuah perhelatan yang menarik terjadi. Anak-anak muda yang kreatif lagi mandiri. Mereka dengan dana sendiri, membentuk sebuah kabinet, yang dinamakan "Kabinet Komik Indie". Bisa jadi komik adalah bagian dari gaya hidup. KKI ini merupakan kumpulan dari kelompok-kelompok komik di beberapa kota di Indonesia, yang merasa 'indie'. Uniknya 'gerakan-gerakan' yang lokal seperti ini memiliki kontak yang lumayan bagus, dan akhirnya terbentuk sebuah jaringan antar wilayah.
Komik di kabinet ini adalah sebuah kata kerja, dan juga peristiwa budaya. Kesadaran bahwa komik bukan sebuah definisi yang final. Itu tercermin pada dua hal ke'indie'an (ke-independenan) yang diusung oleh mereka. Pertama adalah indie dalam penerobosan mereka terhadap mekanisme distribusi pasar komik sebagai sebuah media. Dan kedua adalah penerobosan pada struktur definitif komik itu sendiri.
Komik sebagai media 'konvensional' banyak ditunjang oleh penerbitan dan distributor besar seperti Mizan dan Gramedia. Dengan menggunakan kekuatan modal yang besar dan penggandaan secara besar besaran. Sementara komik indie pada sebagian besar produksinya digandakan secara terbatas menggunakan mesin fotocopy dan sablon.
Batasan-batasan definisi komik yang dianut dahulu, mereka terobos, seperti:
- Tidak memberikan perhatian pada penokohan superhero, semisal Superman, Batman, Gundala, Si Buta da~ Gua Hantu dan Fantasfic Four.
- Tidak berusaha menciptaan karakteryang menonjol, seperti mickey mouse dkk, doraemon, paman gober dll.
- Penggunaan media teks sebagai penyampai gagasan bukan hal yang harus.
- Penciptaan narasitidak harus berpola linier.
- Penciptaan altematif medium komik yang di luar pola buku serial yang baku, seperti banner, poster, mural, menggandakan dengan memfotocopy dll.
- Karakteristik cerita yang dibangun biasanya mencerminkan kehidupan sehari hari yang terkadang absurd, personal, susah dicerna, ironis, memihak dan sesekali politis.
Dari keseluruhan tema yang tertangkap adalah upaya untuk mengganggap pembaca sebagai makhluk cerdas, tidak berpretensi menggurui (membodohkan). Tidak melankolis, heroik ataupun agitatif. Kalaupun ada, bahkan malah menjadi ironi atau parodi terhadap watak-watak yang ditiadakan tersebut.
Sifat-sifat tersebut bukan pula mutlak untuk dapat mendefinisikan karakter komik indie. Karena ke'indie'an itu membuat mereka bisa membuat apa saja dengan komik mereka.
Misalnya sebuah komik yang dibuat oleh Eko Nugroho dari Komik Daging Tumbuh. Judul komik itu tidak tercantum dalam sampul, yang ada hanya teks 'assalamu'alaikum' dengan huruf arab. Sepanjang cerita bergambar itu didominasi oleh dua orang tokoh yang saling berhadap-hadapan. Dengan posisi yang nyaris sama di tiap adegannya. Keduanya merupakan dua orang dari dua generasi yang berbeda (yang satu orang tua dan yang lain anak muda). Mereka berdialog dan puncak dialog itu adalah saling memaki dan berbentakbentakan. Tetapi ekspresi mereka tetap sama, berdiri berhadapan. Uniknya dipuncak perdebatan itu, istri si tua muncul dan mempersilahkan mereka menyantap hidangan yang dibawanya, seperti tidak ada apa-apa. Tidak ada yang digurui lewat cerita itu. Tapi pesan yang ada tersampaikan secara cerdas.
Sementara "Apotik Komik", sebuah kelompok yang banyak memberi pengaruh pada pertumbuhan komik altematif di Yogyakarta, menjelajahi media dan cara pengungkapan lewat bahasa gambar. Puncaknya adalah dibuka sebuah galeri publik yang lebih menyerupai lukisan mural ketimbang galleri yang umumnya dipahami orang. Galeri ini adalah sebuah tembok di kawasan dalam benteng kraton Jogja, yang disengaja umtul dibuat tidak permanen. Setiap bulan karya yang dibuat dengan penuh ketekunan dan serius (mural) itu diharpus atau ditumpuk dengan karya perupa lain. Di bidang visual, Apotik Komik memberi inspirasi bahwa komik adalah bahasa gambar yang tidak terbatas. Salah satu anggota Apotik Komik, Ari Dyanto memamerkan'komik'nya yang dibuat dari media mica. Secara teknik, penggarapannya menyerupai pembuatan lukis kaca.
Karya karya komik yang dipamerkan di Kabinet ini menyiratkan sebuah semangat kebebasan: tidak ada yang pernah salah dalam berkomunikasi lewat rupa. Tidak ada lagi batasan-batasan estetik seperti anatomi komposisi ruang, atau teknik-teknik dekoratif. Semua kemungkinan betul-betul bisa dicoba. Seperti sebuah komik dari "Nun", komunitas komik IAIN Jogja, secara visual gambar yang dibuat lebih mencerminkan karya karya perupa yang "tidak bisa menggambar".
Komik yang dibuat oleh Warsono, meminjam bentuk-bentuk klasik dengan cara penggambaran yanc dekoratif. Spirit untuk kembali ke indiegeonus art, mencairkan kebekuan pemahaman bahwa budaya bangsa adalah beku dan harus di karantina dalam museum.
Di tengah peng-kapitalan segala jenis kesenian, komik indie bisa menjadi sebuah cerminan yang lebih jujur dalam mengekspresikan suasana masyarakat. Media ini lebih sedikit menerima beban perdebatan tentang wacana pasar ataupun pasar wacana. Tidak banyak 'pertimbangan' lain dari para komikus ini dalan mengekspresikan gagasannya. Mereka sekadar berbuat dengan resiko yang barangkali tidak terlalu menggangu.
Kekuatan dan daya ganggu komik indie sebenamya terletak pada kesederhanaannya. Ketidal mampuannya menjadi "seni mainstream"justru membuat komik ini menjadi lebih jujur dalam merekam realitas Hal-hal yang dapat dirangkum dalam komik indie antara lain:
- Komik hanya sebagai cara menyampaikan gagasan, independen terhadap pertimbangan lain. Corat-coret mereka lebih jujur karena tidak ada pertimbangan menjadikannya sebagai komoditi.Komik melintasi batasan-batasan estetika, tradisi moral, obsesi dan kultur.
- Daya personal yang dimilikinya lebih mencerminkan sisi kemanusiaan.
- Memiliki'ruang bermain-main'yang luas untuk dieksplorasi. Tidak ada tabu.
Kabinet Komik Indie ini adalah sebuah peristiwa dan peristiwa-peristiwa budaya seperti ini seringkali dicari-cari konteks dan peranannya di kebudayaan secara keseluruhan. Sayangnya daya tahan Komik Indie ini rentan terhadap kecurigaan, bahwa mereka hanyalah sebuah peristiwa sambil latu. Dan hasilnya adalah karya yang juga sambil lalu, dan dipergunakan untuk membuang waktu, seperti buku teka teki silang, atau novel populer. Dan orang-orang yang menggiatinya akan hilang satu satu sejalan dengan meredupnya semangat "indie" dari masing-masingnya.
Tapi barangkali benar, bahwa salah satu aspek penting dari komik Indonesia, adalah sifatnya yang serba sementara (Marcel Bonneff, 1998).
RAIN ROSIDI
Gelaran Budaya
diambil dari KKI Zine dan http://komikazemedia.tripod.com/arsip/02-04-06kabinetindie.htm