SELAMAT MALAM

Ini adalah blog untuk kumpulan catatan-catatan saya. Tanggal yang tertera di atas teks bukanlah tanggal di mana catatan itu ditulis atau dipublikasikan, tetapi itu adalah waktu saya meng upload catatan tersebut. Banyak catatan yang sudah lama yang baru saya upload dalam blog yang sempat terbengkalai ini. Sebisa mungkin akan saya terakan tanggal dan dimana catatan tersebut dipublikasikan, semampu file saya menyediakan datanya.

Rain Rosidi

Saturday, April 30, 2011

STREET-NOISE, Karya RM Soni Irawan dan Farhan Siki












A world that can be explained even with bad reasons is a familiar world. But, on the other hand, in a universe suddenly divested of illusions and lights, man feels an alien, a stranger. His exile is without remedy since he is deprived of the memory of a lost home or the hope of a promised land. This divorce between man and his life, the actor and his setting, is properly the feeling of absurdity.

Albert Camus

Pada kehidupan kontemporer, dimana dunia seni secara keseluruhan telah ter-‘administrasi’ dan ter-domestifikasi, tetap dibutuhkan seni yang berpotensi sebagai ‘social explosiveness’. Dunia modern yang selalu menertibkan setiap pemberontakan dalam disiplin pasar tetap melahirkan perkembangan kreativitas bentuk-bentuk seni yang menyisakan paradoks. Di satu sisi, keberadaan seni yang ‘tertertibkan’ itu dibutuhkan oleh pelaku seni tetapi di sisi lain, mereka juga membutuhkan situasi cair yang tidak membatasi medan kreatifnya. Galeri-galeri yang berperan besar dalam menertibkan bentuk-bentuk karya seni itu, juga pada akhirnya memberikan ruang bagi munculnya jejak-jejak dialog ketegangan antara ketertiban dunia seni modern dengan kreativitas seni dan situasi sosialnya yang ‘tak mapan’.

Melalui bentuk ‘mural’ dan grafiti misalnya, upaya menertibkan seni itu mengalami pembangkangannya. Karya seni ini lahir dari platform yang kuat untuk mereklaim ruang public dan meraih public yang lebih luas. Para aktivis juga menggunakan seni di ruang publik ini untuk melakukan kerja praksisnya. Pada dasarnya, fenomena street art yang secara massif ditandai dengan hadirnya post-grafiti dan post-mural, menjadi kesadaran beberapa seniman untuk melakukan aktualisasi kerja seninya di jalanan. Mereka dengan sengaja melakukan kerja seni yang sangat demokratis, dinikmati semua orang dan sukar untuk diboyong sebagai property pribadi para kolektor. Banyak kerja pribadi atau kelompok yang dilakukan dengan kesadaran yang berbeda-beda di ruang public. Sebagian dengan kesadaran sebagai counter atas dominasi para pemegang kebijakan atas ruang public, baik dari pemerintahan, maupun korporasi-korporasi besar. Sebagian yang lain merupakan kerja particular sebagai aktualisasi diri di jalanan.

Spirit yang demikian itu juga kemudian memasuki ruang-ruang galeri. Galeri sebagai bagian dari medan sosial seni, juga berperan memelihara dinamika hubungan antara spirit kreativitas seni yang memuja ketidakmapanan, dengan pasar seni yang mengharapkan ketertiban laku seni dan administrasinya. Tidaklah mengherankan kemudian, kalau beberapa galeri secara sadar membangun dialog itu dengan menampilkan jejak-jejak proses kreatif dan eksperimentasi seniman dalam ruang galeri, termasuk mural dan graffiti. Karya-karya itu dihadirkan bukan hanya sebagai pelengkap kehadiran karya lain yang lebih ‘tertib’, tetapi juga sebagai bagian dari laku kerja si seniman yang menjadi bagian integral dari sebuah kerja seni.

Dari sinilah ‘letupan-letupan sosial’ dari sebuah laku seni masih dapat ditengarai jejaknya. Untuk melihat bentuk-bentuk seni yang dihadirkan para seniman ini di ruang galeri, tidaklah cukup melihatnya dari bentuk-bentuk hasil akhir yang dipajang di ruangan galeri. Mereka membawa serombongan besar ‘teks-teks’ lain yang perlu dibaca sebagai bagian dari kerja seni mereka. Lukisan-lukisan dan mural Farhan Siki di ruang galeri ini, adalah sebagian kecil dari kerja yang dilakukannya di jalanan. Begitu juga dengan lukisan karya RM Soni Irawan, yang menjadi sebagian dari jejak kreatifnya di dalam mengeksplorasi berbagai medium seni, termasuk musik.

Karya-karya semacam itu, pernah dipamerkan secara bersama-sama oleh puluhan seniman Jogjakarta dalam sebuah pameran bertajuk 'Utopia Negativa' di Magelang. Di tahun 2004, sebenarnya ide membuat pameran 'Utopia Negativa' tercetuskan. Waktu itu saya mengajak Nano Warsono bertemu dengan RM Sonny Irawan, Uji Handoko, dan Krisna Widiathama. Kami memperbincangkan rencana untuk membawa karya-karya mereka ke sebuah ruang galeri. Ide awal waktu itu adalah bagaimana menampilkan karya-karya dengan kecenderungan ‘chaotic’ tapi ‘ekstaktif’ namun juga mampu merefleksikan kehidupan kontemporer dalam sebuah ruang pameran. Saya sudah menawarkan foto-foto karya mereka ke sebuah galeri ternama di Jakarta, tetapi sang empunya merasa belum tertarik dengan karya-karya itu. Untuk itu saya menunda ide memamerkan karya-karya dengan kecenderungan itu secara bersama-sama. Barulah pada tahun 2008, pameran secara bersama-sama perupa dengan watak yang sama dapat kami selenggarakan. Bahkan di dua galeri sekaligus di Jogja dan Magelang. Dari sinilah kemudian pameran-pameran bersama digagas kembali untuk menampilkan lebih jauh watak dari kecenderungan ini. Tulisan ini diperuntukan sebatas salah satu cara untuk meninjau kekaryaan dua seniman ini. Wataknya hanyalah sebagai pendamping pameran dan bukan sebuah catatan kuratorial.

JALANAN DAN KEBISINGAN

Dua orang seniman ini bisa disebut seniman yang tidak biasa anda temui di art scene Indonesia. RM Soni Irawan mengerjakan bentuk-bentuk visual yang komikal dengan figur-figur ‘aneh’ yang terkait dengan aktivitas bermusiknya, serta Farhan Siki yang biasanya mengerjakan seni jalanan (street art). Watak seni yang demikian itulah yang mewarnai karya-karya mereka.

Kita bisa memulai sebuah ilustrasi untuk menilik karya-karyanya dengan sebuah pementasan Seek Six Sick. Di atas panggung dua orang bermain gitar dengan cara yang tidak wajar. Bukan hanya lengkingan melodi dan rithm gitar yang terdengar, tetapi juga derau dan kebisingan yang ditimbulkan oleh alat-alat musik itu. Dua gitar itu saling memantulkan bunyi-bunyian yang kadang menyakitkan telinga. Sementara sang vokalis meneriakkan nada-nada yang janggal dan tak nyaman. Tapi penonton menikmati ‘kesakitan’ performa band yang menyebut aliran mereka sebagai ‘asian noise rock’ ini. Dari sini kita akan menemukan korelasi artistik RM Soni Irawan antara karya seni dengan ekspresi panggungnya.

RM Soni Irawan bukan nama baru dalam dunia seni rupa tanah air. Dengan sebuah karya grafisnya yang berjudul “Bangun dari Mimpi Buruk yang Indah”, yang menggabungkan teknik etsa dan mono-print yang rapi, RM Soni Irawan masuk lima besar kompetisi seni rupa nasional tahun 2001. Karya itu menggambarkan seraut wajah (topeng) menyeramkan yang ditempeli sebatang pistol di dahinya. Di belakangnya sebuah motif ornament yang biasa, sebagai latar belakang. Mendapatkan hadiah sejumlah uang dari panitia kompetisi, Sonny lantas menggarap sebuah kompilasi album independent berdasarkan karya grafis itu, yang melibatkan beberapa grup band independent. Album itu mungkin menjadi album kompilasi musik sebagai soundtrack karya seni grafis pertama yang dibuat di tanah air.

Dalam seni rupa, selain kompetisi tersebut, nama RM Sonny Irawan juga sempat diundang sebagai peserta Jogjakarta Biennal yang ketujuh (2003). Dalam pameran ini Soni menyertakan serangkaian karya cetaknya yang menampilkan potret dirinya pada bermacam benda, seperti t-shirt, poster, dan sebagainya sebagai gagasan untuk ‘distibute yourself’. Karya RM Soni Irawan yang menjual hasil rekaman musik dari kelompok Seek Six Sick serta menjual aksesori lainnya yang biasa dipasarkan dalam distro, yaitu toko yang mendistribusikan aksesori, pakaian, dan merchandise lokal pada konsumen remaja dan komunitas underground.

Di Jogjakarta, gerakan seni urban dengan kesadaran yang lebih besar antara seni dan persoalan kota mulai digulirkan dalam projek ‘Mural Sama-Sama’ yang digagas Apotik Komik (2002). Projek ini disadari memberi pengaruh yang besar terhadap gerakan seni di Jogjakarta. Salah satu yang utama adalah dimulainya secara lebih intensif kesadaran perupa untuk melihat aspek ruang publik dan ketegangannya dalam berkarya seni rupa. Pengaruh itu juga terdapat pada jenis-jenis karya lain, di luar mural dan graffiti. Banyak perupa muda setelah itu, yang mendapat inspirasi dari gerakan-gerakan street art dan budaya urban dalam karya mereka. Farhan Siki, salah satu yang menonjol di antara mereka, bahkan sebelumnya telah pula terlibat sebagai aktivis dalam gerakan-gerakan sosial perkotaan. Perupa kelahiran Lamongan ini termasuk pelaku street art yang intens dengan persoalan-persoalan masyarakat urban yang dijalaninya pula sebagai seorang aktivis.

Dua seniman ini mengomentari masalah kontemporer bukan dalam bentuk protest. Karya mereka menubuhkan dalam dirinya sendiri, semacam presentasi atas persoalan kontemporer masyarakat saat ini. Dari medium yang dipakai, maupun watak yang muncul dari karya-karya mereka nampak tema-tema besar kontemporer tersirat; seperti alienasi manusia atas berbagai hal; kehilangan keyakinan dan kepercayaan, sendirian, dan ketakbersahabatan. Dari jalanan yang menyimpan segudang persoalan urban, dan dari kebisingan yang lahir dari kemarahan pribadi, memunculkan gagasan-gagasan tentang manusia dengan berbagai pengabaiannya atas keyakinan yang berkembang, teknologi, rasionalitas, dan lingkungan. Dalam karya mereka, jejak optimisme terasa absurd di peristiwa dunia modern abad ini.

Dalam visualisasi, masing-masing karya mereka menunjukkan pengaruh yang kuat dari latar belakang yang masing-masing mereka geluti. Farhan Siki menampilkan sekumpulan huruf-huruf tak terbaca dan lelehan-lelehan cat yang liar senarai dengan kemampuan menggambarnya di jalanan. Sangat kentara, bagaimana spirit street art itu dalam cara dia memperlakukan kanvas. Dalam karya Soni, figur-figur dan goresan liar yang diambilnya dari bentuk-bentuk komikal nan bebas memenuhi bidang kanvasnya. Pemakaian warna-warna primer seolah-olah hendak memberikan sebuah ironi, warna-warna yang terlihat cerah dan menyenangkan itu menyimpan sesuatu yang ‘chaotic’, riuh dan bising. Bagi Soni, melukis sebagaimana dalam bermain musik, adalah sebuah pesta. Maka, setelah melihat karya seni rupa ini, anda akan melihat warna-warna kuning, biru, merah, hijau, dan warna-warna cerah lainnya dengan cara yang sangat berbeda.

Rain Rosidi


DYNAMIC DUOS Dengan FARID STEVY ASTA


Dog dog dog,

working like dog

breathing like dog

playing like dog”


Sebuah kalimat provokatif yang tertera di salah satu pembuka emailnya kepada saya. Farid sering menggambarkan dirinya sebagai seekor anjing, sebagaimana karakter-karakter dirinya dalam lukisannya. Sebuah penggambaran yang ‘raw’ terhadap cara dia merespon lingkungan sekitarnya. Farid Stevy Asta, pemuda kelahiran Wonosari, 28 tahun yang lalu ini adalah salah satu perupa yang belajar Disain Komunikasi Visual di ISI Jogjakarta. Latar belakangnya ini juga akan menarik untuk dibicarakan, karena Farid banyak mengadopsi idiom-idiom disain dalam lukisannya.

Farid memulai kerja seninya di jalanan. Dengan membuat grafiti, pada akhirnya dia lebih banyak bergaul dengan teman-teman perupa di lingkungan yang ‘bukan disain’. Salah satu seniman Jogjakarta yang menjadi influence besarnya adalah Eko Nugroho dan teman-temannya, yang dibesarkan dalam lingkungan seni lukis dan grafis (seni murni). Sebuah karyanya yang akhirnya menjadikannya berubah haluan adalah karyanya yang berupa sebuah teks yang berbunyi “The Future Starts Now”. Karyanya itu diterima dan dipamerkan dalam even Jogjakarta Biennal. Dari karya inilah, Farid mengakui perubahan haluan keseniannya. Dia merasa menemukan sebuah kerja kreatif yang lebih sesuai dengan karakter dirinya.

Rencana pameran ini dilakukan setelah pembicaraan dilakukan antara Farid, pak Dedi Irianto (Galeri Langgeng) dan saya. Waktu itu baru saja Farid menyelesaikan pameran bersamanya “Utopia Negativa” dengan beberapa seniman muda lain seperti Bambang Toko Witjaksono, Arie Dyanto, Wedhar Riyadi, Uji Handoko, dan lain-lain. Pada saat itu, Farid membawa dua buah lukisan personal dan sebuah lagi lukisan hasil kolaborasinya bersama Wedhar Riyadi dan Terra Bajragosha. Karya lukisannya berhasil mengesankan pencinta seni, dan selanjutnya saya dan pak Dedi merencanakannya untuk berpameran tunggal di Galeri Langgeng, Magelang.

FARID STEVY ASTA DAN “JOGJA AGRO POP”

Salah satu yang berkembang di art scene Jogja adalah berkembangnya kerja kreatif seni rupa yang sangat dekat dengan perkembangan budaya populernya. Anak-anak muda mengembangkan industri kreatifnya sendiri dengan bentuk-bentuk ruang dan industri alternatif, seperti distro, ruang galeri, studio, dan manajemen musik dan seni. Kerja kreatif mereka menciptakan ruang kreasi yang mempunyai kekhasan yang berbeda dengan kerja seni lainnya. Kerja kreatif mereka lebih dekat pada hobby dan gaya hidup kesehariannya. Salah satu yang sekarang sangat menonjol adalah kerja di bidang seni rupa. Dalam seni rupa, muncullah satu kecenderungan yang unik perpaduan berbagai kerja kreatif dalam dunia anak muda, seperti dari musik, disain, street art, DJing, komik, dan gaya panggung. Panggung dan pesta anak muda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan seni rupa dengan ciri ini. Dan yang terjadi pada saat ini adalah, beberapa dari mereka menerjuni dunia seni secara serius dengan mengerjakan karya-karya lukisan dan patung.

“Jogja Agro Pop” adalah sebuah istilah yang iseng ditasbihkan pada sekelompok seniman muda yang dijiwai oleh spirit gaya hidup urban tersebut. Di Jogjakarta, spirit urban ini muncul di tengah kelompok anak muda yang berada di batas yang unik antara semangat urban yang kosmopolit dengan kehidupan lokal yang masih cenderung rural. Mereka adalah generasi yang sangat sadar akan keberadaan dirinya di tengah perubahan arus global, sembari sesekali menengok keberadaan dirinya di tengah kehidupan lokal Jogjakarta. Jogjakarta bukanlah sebuah kota besar seperti dengan Jakarta, tetapi lebih menyerupai kota kecil (atau bahkan kampung besar) dengan tradisi yang kuat. Hanya saja, dari kota ini, para anak mudanya lebih leluasa untuk bermain dalam jaringan internasional, lewat medium internet, jaringan ruang seni, dan even-even seninya. Dari kampus-kampusnya, juga terjadi interaksi yang intensif dengan mahasiswa asing dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Di kota ini, kerja kreatif terus bertumbuh, dengan atau tanpa campur tangan kebijakan penguasa dan pasar mapan.

Di kota ini pula, Farid bekerja tidak hanya pada karya-karya seni yang mapan. Farid lebih akrab dengan kerja seni yang lebih didasari oleh semangat bermain dengan hal-hal yang disukainya, seperti membentuk grup band, menulisi grafiti di kota Jogjakarta, dan bersama teman-temannya mengerjakan berbagai hal kreatif. Demikian pula pada kerja disain visual yang masih tetap digelutinya. Dari sinilah, semua karya lukisannya mendapat pengaruh terbesarnya.

Benang merah dari para perupa muda ini tidak bisa ditengarai pada satu gejala visual saja, misalnya komik, grafiti atau ilustrasi. Pada komunitas pergaulan ini, ada hal-hal lain yang menghubungkan mereka di luar faktor visual, misalnya interaksi mereka dalam bidang musik. Selain itu, mereka juga dipertemukan dalam interaksi-interaksi di antara mereka yang tidak saja berupa kerja kreatif visual, tetapi juga kesamaan hobby dan pertemanan. Itulah yang menjadi spirit dari komunitas ini, yang sering disebutkan sebagai mempunyai kesamaan ‘attitude’.

FARID DAN KERJA KOLABORASINYA

Farid membagi projek pamerannya ini dalam dua sesi, sesi pertama adalah sesi kolaborasinya bersama sebelas teman bermainnya dalam dunia seni rupa. Sesi kedua adalah karya-karya pribadinya. Sesi kolaborasi itu bertemakan pasangan-pasangan legendaris yang mewarnai dunia populer.

Ide pameran ini pertama-pertama bersifat teknis dan cenderung taktikal. Farid yang walaupun pernah menjadi peserta even-even besar seni rupa di tanah air, tetap merasa sebagai pendatang dan orang yang berada di wilayah asing dalam jagad seni rupa kontemporer. Perasaannya sebagai ‘alien’ ini, kemudian memberinya ide untuk membuat pameran dengan menyertakan teman-temannya sesama art scene di Jogjakarta untuk mengusung ide kolaborasi.

Pertimbangan yang lain adalah, bahwa Farid ingin menawarkan kepada khalayak pecinta seni bahwa sebuah karya yang lahir dari seseorang individu tidak lahir begitu saja dari satu orang perorang, tetapi juga berada dalam sebuah lingkungan sosial dan kreatif tertentu. Kerja kolaborasi barangkali menyalahi prisnsip seni modern yang memuja personalitas karya. Bagi Farid, prinsip kerja ini lebih sesuai dengan kerja kreatifnya sebagai seorang disainer. Farid tidak saja menawarkan idiom visual pribadinya, tetapi menyandingkannya, dan sesekali mempertandingkannya dengan diom visual seniman lain. Prinsip yang sebangun dengan apa yang terjadi di kalangan street artist, yang dikenal dengan istilah ‘battle’. Karya seseorang bisa merespon karya seniman lain, atau justru melawan karya lainnya. Keasyikan bekerja sama ini meperkaya idiom visual yang muncul dalam karya-karya lukisannya.

Kerja ini diawali dengan berdiskusi antara Farid dengan seniman yang diajaknya berkolaborasi. Setelah itu, masing-masing pihak menentukan tokoh apa yang akan dikerjakan secara kolaborasi. Pemilihan pasangan tokoh-tokoh tersebut menyesuaikan dengan hasil diskusi dengan si seniman dan mempertimbangkan gaya masing-masing seniman. Dan hal tersebut kemudian mencerminkan kecenderungan dari masing-masing seniman. Farid menggambarkannya sebagai sebuah ‘gang bang visual’. Pesta mengeroyok ramai-ramai dirinya. Dalam pesta itu, masing-masing pihak harus ‘terpuaskan’. Untuk itu proses ini diakhiri dengan dialog terakhir untuk menentukan hasil akhir karya tersebut.

FARID STEVY ASTA DAN GAYA VISUALNYA

Farid banyak terpengaruh secara visual oleh street artist yang akhirnya dikenal dalam ranah seni kontemporer. Sebutlah misalnya, Dave Kinsey, yang kebetulan juga seorang disainer yang kemudian bekerja di medium-medium lain seperti lukisan. Sama seperti Farid, Dave Kinsey juga menggunakan idiom street art dan disain dalam lukisannya. Pada seniman ini, jejak pengaruhnya pada Farid terlihat pada penggunaan layer-layer yang bertumpuk pada bidang lukisan untuk menggambarkan kompleksitas kehidupan kontemporer.

Seniman-seniman seperti Andy Warhol, Jean Michel-Basquiat, dan Shepard Fairey menjadi influence-influence lain dalam kerja seninya. Andy Warhol dengan tatacara yang sangat berbeda dengan kerja seni sebelumnya, namun menjadi ikon seni kontemporer masakini, telah memberinya inspirasi untuk bekerja dengan idiom disain, seperti membentuk ‘factory’ yang dengan sadar memproduksi karya-karya dengan cara massal. Dari tokoh ini, Farid banyak melihat bagaimana seharusnya karya seni mucul dari semangat di luar hal-hal yang mapan.

Shepard Fairey juga menjadi salah satu seniman kesukaannya. Tokoh ini juga adalah teman dari Dave Kinsey yang lebih banyak bekerja di ranah street art. Cara seniman ini dalam menggunakan warna-warna yang minim bisa ditengarai jejaknya pada karya Farid Stevy Asta, yang cenderung monokromatik. Sebagai seorang disainer, Farid tetap mengukuhkan keberadaan dirinya lewat idiom visual yang khas. Dengan gaya yang mengingatkan figur-figur pemujaan suku Indian, figur-figur kaku dan menjulang ke atas. Warna kecoklatan sebagai layer pengikat. Suasana monokromatis. Dari segi teknis, Farid mengeksplorasi gagasan-gagasan visual dalam dunia desain, seperti pemakaian layer warna kecoklatan sebagai pengunci semua warna yang digunakannya.

Cara visualisasi yang menonjol dari karya Farid adalah pemakaian layer yang memberi kesan dimensi teknis yang ditambah dengan efek-efek lelehan cat dalam lukisannya. Dengan cara ini, Farid berhasil menghadirkan karya disainnya sebagai karya lukisan yang berbeda dengan karakter disain berbasis vector atau bitmap, karena mampu menghadirkan efek-efek yang hanya bisa dinikmati dalam warna-warna yang berbasis pigmen.

Ciri lain yang dikembangkan Farid adalah dalam hal membentuk objek lukisannya. Berbeda dengan sebagian besar seniman ilustratif yang lain, Farid membuat bentuk dalam lukisannya justru dimulai dari bidang warna terlebih dahulu. Sehingga yang muncul adalah garis-garis negarif yang terbentuk dari pertemuan-pertemuan warna-warna dan bidang-bidang bentuk. Ciri tersebut sangat kuat sehingga pengaruh-pengaruh dari seniman lain tidak begitu saja dapat ditandai pada karyanya.

Muncul dalam karyanya citra-citra binatang seperti anjing bulldog, babi, dan sebagainya yang dipergunakannya untuk membuat karakter dirinya sendiri. Karakter-karakter dirinya yang menunjukkan bagaimana dia bersikap terhadap lingkungan sekitarnya. Sebuah cara yang memunculkan emosi ‘raw’nya yang masih dibumbuinya lagi dengan figur-figur terpotong yang terkadang memunculkan batang tulang-tulangnya. Visualisasi ini terkesan kasar, namun dikembangkan dalam komposisi yang menarik untuk dilihat.

FARID STEVY ASTA DI ANTARA BELANTARA SUHU-SUHU POP

Di masakini, sebuah karya sangat sulit untuk dilepaskan dari konteks jaman dan lingkungan tempat karya dan senimannya berasal. Lingkungan tertentu menghasilkan energi kreatif tertentu pula. Dalam ranah budaya pop, nama-nama besar yang menyejarah menjadi bagian dari ikon-ikon dan monumen-monumen yang menyertai sejarah budaya manusia. Nama-nama itu menjadi bagian dari budaya masakini, berdiri tegak menjadi tanda-tanda kejayaan masalalu dan tanda-tanda untuk membaca masadepan. Ketika kita masuk dalam budaya populer itu, dalam ruangan sudah berdiri di sana, Andy Warhol dan Basquiat, Syd dan Nancy, John Lennon dan Yoko Ono, Mohamad Ali, dan bahkan Joker dan Harley Queen. Mereka berdiri menjadi monumen budaya pop yang akan terus di sana ketika kita mencoba masuk di dalamnya.

Citra-citra itu menjadi bagian dari kehidupan populer masakini. Apalagi dalam dunia visual yang digeluti oleh Farid Stevy Asta. Para tokoh ini dijumpainya dalam bentuk-bentuk citra yang seolah-olah hidup bersama berdampingan dengan dirinya dalam koridor budaya pop. Para tokoh legendaris itu direproduksi dalam jutaan citra copyannya yang tetap dikonsumsi sampai detik ini. Mereka menjadi ‘teks-teks’ yang tak pernah usai dinikmati oleh jutaan manusia. Dan Farid memilihnya dalam wujud citra-citra ikonik pasangan-pasangan pesohor yang mengisi dunia citra kontemporer. Itulah yang kemudian dimasuki Farid ketika dia mencoba mencari dasar atas idiom visualnya. Farid menggunakan citra-citra ikonik para pesohor itu sebagai cara dia untuk masuk dalam wilayah seni pop.

Duo yang ditampilkan dalam karyanya adalah juga penggambaran momen-momen yang penting dalam sejarah kehidupan masakini. Setidaknya bagi Farid Stevy Asta. Baginya, pertemuan antara Andy Warhol dan Jean Michel-Basquiat, pertemuan Mohamad Ali dan pegulat Amerika Latin, kebersamaan antara John Lennon dan Yoko Ono, dinamika pasangan Syd dan Nancy, pasangan kontroversial dalam komik Joker dan Harley Queen, tokoh animasi Beauty and The Beast, pasangan kocak Beaves and The Buthead, dua karakter robot dalam film Starwars, juga pasangan lokal Duo Kribo yang pernah mengisi blantika musik tanah air, adalah peristiwa-peristiwa penting yang menandai kehidupan kontemporer hari ini.

Menyandingkan dua tokoh dalam sebuah karya bukan sesuatu hal yang baru. Tetapi pada karya Farid, persandingan itu juga dilakukan dalam gaya visual, dan dilakukan oleh dua seniman. Dengan masing-masing seniman, Farid tidak saja menawarkan karakter tokoh yang berbeda-beda, tetapi juga medium yang dipakai. Hal tersebut memberi tawaran yang sangat menarik, karena kemudian muncul karya-karya dengan medium yang tidak biasa dilakukan oleh Farid sendiri.

Salah satunya adalah kolaborasinya dengan Wimo Ambala Bayang, yang berbasis fotografi. Dalam karya ini, Farid bertindak sebagai objek karya dan Wimo berkolaborasi sebagai fotografer.

Karya yang mengambil citra ikonik dari foto pasangan John Lennon dan Yoko Ono karya Anne Leibovitz itu diapropriasi dengan sosok dirinya dengan objek guling. Karya lain adalah persandingan antara dua karakter komik dalam serial Batman, yaitu Joker dan Harley Queen. Pasangan ini dikerjakannya bersama Bendung yang sangat kuat dalam menggarap karakter komikal.

Pilihan-pilihan duo itu menunjukkan pula pemahaman dan kedekatan emosi Farid terhadap isu-isu dan hasil-hasil produksi visual dalam dunia populer. Tidak saja “Dinamic Duos” itu menggambarkan pasangan-pasangan kontroversial abad ini, tetapi juga apa yang terjadi antara Farid dengan teman-teman kolaborasinya. Dia berperan sebagai pasangan masing-masing seniman itu, dan berusaha membuat kesan dan emosi yang berbeda di setiap kolaborasi. Kerja ini diakuinya cukup menantangnya. Farid sempat terkejut ketika mendapati hasil karya teman-temannya itu dalam melukis untuk kanvasnya. Para seniman muda itu mengerjakan karya kolaborasi yang akan direspon oleh Farid dengan sangat serius. Masing-masing menghadirkan gaya dan interpretasi yang biasa mereka kerjakan dalam karya pribadinya. Dalam kerja ini, diskusi yang dilakukan oleh Farid dan teman-temannya menjadi bagian dari proses kreatif yang utama, dan keberhasilannya tak lepas dari kedekatan emosional Farid dan teman-temannya sesama perupa. Itulah yang menjadi gambaran dari lingkungan darimana Farid dibesarkan sebagai salah satu perupa muda Indonesia saat ini.

Rain Rosidi.

Tulisan ini untuk pameran Dynamic Duos di Langgeng Gallery Magelang, 18 Desember 2008

Sunday, June 29, 2008

UTOPIA NEGATIVA

karya Edwin Dolly Rooseno

Langgeng Gallery, 5 juli 2008, 10 wib, Magelang

menampilkan:
AGUS YULIANTO, ARIE DYANTO, ARYA PANJALU, BAMBANG TOKO, HENDRA PRIYADANI, DOLLY ROOSENO, EKO DIDIK SUKOWATI, FARID STEVY ASTA, DECKY FIRMANSYAH, IGN. ADE, FATHURROHMAN ALWATHONI I.H., PRAYOGO SATRIO UTOMO, KOKOK SURATMOKO, KRISNA WIDIATHAMA, LOVE HATE LOVE, NANO WARSONO, PRIHATMOKO, RUDI ATJEH, SULUNG WIDIASWARA, TATANG, TERRA BAJRAGOSA, UJI HANDOKO, WEDHAR RIYADI, WOK THE ROCK
kurator: RAIN ROSIDI

UTOPIA NEGATIVA

1

The initial idea for this exhibition came after reading a thesis by Spencer Holleman titled “A Popular Critique of Pop Culture: A Close Listening to the Music of Radiohead.” This thesis cast the spotlight on how a popular rock band encountered frictions with contemporary issues and became compared with thinkers such as Albert Camus, Theodore Adorno, etcetera, the explorers of such literary ideas as exile, ‘last man on earth’ and anxiety. This thesis gave the impetus to read other visual artworks of current artistic tendencies within the framework of social relevance and contemporary issues. Developing these ideas further, the curatorial framework for Utopia Negativa was assembled.

This exhibition is unique, firstly due to its selection of participants. The artists invited to this exhibition have the following similarities. They produce works that belong to a different lineage in the development of visual arts today. Their works are a common ground between the development of contemporary arts with lifestyle, music and sub-culture idioms. Their artistic vision’s relevance and territory appear in enigmatic themes that are often not fully understood. Despite the bizarre visual expressions of these youngsters engaged with popular culture, they still say something that reflects contemporary life and social relevance. Their different platform of working then comes to the fore with a visual language that is fresh and close to the popular reality.

Several large arts events in Indonesia are increasingly displaying what Robert Williams postulated succinctly: “there is no more outlaw art.” Works of art previously hard to categorize as important or not considered fine art (read: high art) have begun to make their appearances in great arts events. In the seventh Jogja Biennale, for instance. This exhibition heralded the arrival of works by Eko Nugroho (Daging Tumbuh or Meat Growth), Nano Warsono, Bambang Toko and RM Sonny Irawan who had adopted comics, mural, graffiti, clothing and posters as art.

Earlier, Apotik Komik (Comic Apothecary) baptised Jogja as a city of murals with its golden project, Mural Kota Sama-Sama (Mural the Town Together – read the research outcome of Bambang Toko, an academic and one of the initiators of the late Apotik Komik). Eko Nugroho’s Daging Tumbuh had phenomenal success in getting this multi-talented and creative artist invited to various international exhibitions. In the opening throes of this millennium, a large-scale event for comic artists from various communities appeared under the banner Kabinet Komik Indie (Indie Comics Cabinet) at Gelaran Budaya Yogyakarta, becoming a celebration for groups of alternative comics creators such as Daging Tumbuh, Tehjahe Komik (Comic Ginger Tea), Taring Padi (Rice Incisors), etcetera. Small graffiti groups appeared, including the Love Hate Love phenomenon decorating the town of Jogja. The presence of this enigmatic figure was then set in more concrete terms in Indonesian arts when his works were smuggled in among the Shout Out! FKY 2007 Exhibition (curated by Arie Dyanto, among others) in Yogyakarta, which then continued with antics in a number of art spaces. In Jakarta, Tembok Bomber (Wall Bomber) dedicated his/her site to document the various phenomenon of street art. In Yogyakarta, Nano Warsono initiated a site on “lowbrow” Jogja artists in www.yk300cc.com.

Younger ‘boy scouts’ interrupted the arts with project after project, such as “Sneakerssneakers”, “New Cock on the Block”, “T-Shirt from March”, “Ride the Lighting”, “Agrarian Cowboy”, “Youth Gone Wild”, and various creative antics. These youngsters are so creative they need several pages to recount all their arts activities, from music, MC-ing, DJ-ing, making toys, etcetera.

In truth, the main issue is not about whether these works are beginning to be accommodated by the social scene of contemporary arts. In the international arts stage, artists in the category of lowbrow art have developed special gallery spaces more in line with the tendencies of their works, as well as building their own audiences. Starting from America, which then had an international influence over artists attached to a mutual foundation of genres such as psychedelic art, animation, anime, commercial art, comic books, graffiti and street art, Japanese art and Chinese art, kitsch, kustom kulture, manga, pop culture, propaganda art, punk rock culture, retro, illustration, pulp magazine art, science fiction, surf culture, tattoo art, tiki culture, toys for adults, and notably vinyl figurines. The established arts world is accommodating them, such as Mark Ryden’s “Wondertoonel” in Pasadena Museum of Califronia and the works of Robert Williams (the initiator of Juxtapoz and lowbrow artists) in the Museum of Contemporary Art in Los Angeles in 1992. There we have seen how art critics and the arts social scene in general are taking lowbrow art into account.

In Yogyakarta, this unique development cannot be separated from the involvement of trained young artists, be they established academics or still students. Those with a strong arts education background spearheaded Apotik Komik, which “broke ground for the movement of artists seriously bringing visual considerations down to the streets.” Established artists in the Yogyakarta arts world also dominated among producers of photocopied comics Daging Tumbuh. This also goes for those who are active bringing their art to the popular pockets of culture such as distro apparel, product design, clothing, etcetera. It is true that outsider artists continued along this path more boldly, but the entry of these ‘schooled’ artists into these forms of art created a more serious arena of creativity in developing visual elements.

These developments in street art are now being broadened in the arts world with public arts projects initiated by institutions such as the Cemeti Arts Foundation, also known as the Indonesian Visual Arts Archive (IVAA) and Kedai Kebun Forum. What is more impressive is that those mentioned artists have now received many invitations to various events, whether open events or from private galleries. They are even dominating large events such as the Yogyakarta Arts Festival, Yogyakarta Biennale, etcetera.

2

The second is the theme or title of this exhibition, which is Utopia Negativa. This theme is adopted from the terminology ‘negative utopia’ which is the perception of anti-utopia or dystopia. Dystopian products are far removed from optimistic attitudes and moral developments. These pessimistic books voice anxiety towards the direction of human development that is perceived as going increasingly astray.

This theme is considered appropriate to frame how these artists are producing their work. This is due not only because the Utopia Negativa theme is reflected in their works, but also on how they produce those works. The themes that are present in their work, similar to their contemporaries in other arts fields, give commentary on the social situation. However, there is some difference in how they approach the issues in their work. Environmental issues, social change, humanity, lifestyle and even issues surrounding art itself manifest in their work in a way that is closely relevant to their daily lifestyles and creative vision.

3

This Utopia Negativa project wishes to acknowledge the presence of their unique works in a more concrete fashion in the development of Indonesian regional art. In this phase, while all kinds of works are being accommodated well in the regional Asian market, their works offer a different discourse in their familiarity to the lifestyles they live in. Their artwork is born of a situation in which they are engaging with the popular creative field.

On the other hand, this exhibition also looks into how these works then correlate with the social contemporary universe. This exhibition analyses how these artists participate in the growth of cultural commoditisation and economic culturalisation. Their ambivalence in this participation can be found in their choice of media and styles, such as what they choose to do in their arts practice, such as their affinity to ‘non-mainstream art’ (although the majority of them come from an academic arts background) such as toys, mural, graffiti, comics, posters, etcetera. These artists are also familiar with the use of ‘non-art’ media, such as neon box, photocopy, digital print, etcetera. The mediums they have chosen highlight their involvement in alternative media and their entanglement with contemporary social issues.

In painting and sculpture, which are present as the central media in the development of modern arts, they continue to leave traces from their common ground with popular culture. These traces are visible in their use of popular idioms that sometimes become their daily consumption. Some of them have started to take a closer look at local popular culture, such as traditional painting, wayang, etcetera as part of their references. At this stage, their common ground with contemporary issues becomes clearer in revealing the social issues around them.

Rain Rosidi

Translated by Kadek Krishna Adidharma

http://utopia-negativa.blogspot.com/

Saturday, January 05, 2008

PAMERAN "LULLABY", 19 JANUARI 2008, V ART GALLERY YOGYAKARTA


My Sweet Lullaby, Bambang Toko
selengkapnya lihat di www.lullaby-art.blogspot.com

Wednesday, October 10, 2007

‘KETAKTERDEWASAKAN’ BOB SICK




If I knew exactly what I wanted to say, then I wouldn’t write the song.
Thom York

Sebagai narsis sejati, jelas aku mencintai pasanganku, bangsaku, rakyatku, sahabatku dan jalan kesenian yang aku pilih.
Puisi Bob Sick 2007

“Aku memang bisa apa saja, kecuali membina keluarga sakinah”
SMS Bob Sick kepada penulis


Pada 26 Mei 1971, lahir seorang anak laki-laki yang dinamai Bob Yudhita Agung. Tidak dinyana, beberapa puluh tahun kemudian, nama itu lebih dikenal dengan sebutan Bob Sick. Nama yang menggambarkan konsepsinya berkarya, tentang rasa sakit yang semakin membuatnya merasakan keberadaannya sebagai manusia.
Semenjak perkembangan peradaban, seni difungsikan sebagai propagator sekaligus sebagai kritik terhadap masyarakat dan kebudayaan. Frankfurt School cenderung mengulik hubungan tersebut. Madzhab ini secara konsisten menolak untuk “memperlakukan budaya sebagai sebuah kenyataan yang lepas dari masyarakat”. Kemudian mereka mencoba menginterpretasikan seni sabagai salah satu bahasa kode yang berproses mengambil tempat di masyarakat dengan diuraikan melalui analisa kritis. Seni merefleksikan kondisi masyarakat saat ini dan eksis dan seringkali menemukan persoalannya. Menjadi kepercayaan yang dominan pada Madzhab Frankfurt bahwa seni “bertindak sebagai upaya terakhir teriakan manusia terhadap masyarakat lain melampaui yang sudah ada”. “Seni adalah respon terhadap represi” dan, oleh sebab itu, seni yang “sesungguhnya” hanya dapat diproduksi dalam masyarakat yang terepresi. Dan elemen dari masyarakat umum, harapan yang dibagi untuk kemanusiaan yang potensial, diinformasikan oleh setiap aksi estetik. Max Horkheimer menulis bahwa “seni, semenjak otonom (dari gereja), telah menyediakan utopia yang diuapkan dari agama”. Kepercayaan ini bahwa fungsi penting dari seni adalah untuk menunjukkan pada yang lain, lebih ideal, masyarakat “yang mungkin juga membawa pada kesimpulan bahwa seni hanya dapat muncul pada konteks ketidakbebasan”.
Theodore Adorno salah satu teoretisi pentolan madzhab ini, berkhusuk pada gagasan otonomi artistik. Pencerahan dialektis Adorno adalah bertumpu pada pergerakan antara yang universal dan yang partikular. Ketika diaplikasikan pada teori seni maka dialektika ini termanifestasikan pada satu sisi sebagai Law of Genre (menghadirkan keuniversalitasan – ikatan kolektif) dan di sisi lain adalah spontanitas. Spontanitas menunjukkan partikularitas dan keterlepasan teoretik dalam dunia kemungkinan dan permainan manusia.
Dalam seni rupa, semangat bermain-main menjadi semacam pintu masuk yang lebar bagi tumbuhnya ‘yang partikular’ dalam seni. Raw art, salah satu manifestasi kecenderungan dalam seni yang kemudian memberi pengamatan berbeda terhadap karya-karya yang berada di luar pengamatan umum. Seniman Perancis Jean Dubuffet adalah salah satu seniman yang pertama kali mencetuskannya sebagai Art Brut. Baginya itu adalah bentuk termurni dari kreasi. Merunut Dubuffet; mungkin seniman seringkali tergagap untuk menyatakan apakah yang dibuatnya, tapi karya itu sendiri secara konstan telah bercerita. Pemberian tempat pada karya-karya yang muncul dari kegilaan, para visioner artist, atau dari para ‘outsider’ yang berada di garis terluar masyarakat atau sistem. Raw Art juga yang sering diartikan sebagai seni ‘yang tidak dimasak’, seni yang ‘tak terdewasakan’ oleh budaya.
Dalam konteks ‘tak terdewasakan’ secara budaya inilah kita bisa melihat seorang Bob Yudita Agung a.k.a Bob Sick berkiprah di jalur seni lukis. Seorang pelukis yang dikenal oleh semua masyarakat seni di Indonesia dengan penampilannya yang unik, dari rambut sampai ujung kaki. Penggila tatto dengan tubuh yang dipenuhi tatto koleksinya, hasil karya seniman tatto dari sekujur pulau Jawa dan Bali. ‘Tak terdewasakan secara budaya’ terlihat dari seluruh apa yang dilakukan dalam setiap aksi estetiknya. Lukisannya berlandaskan semangat bermain yang kental, dengan spontanitas gagasan yang cukup tinggi.
Bob bukan orang yang sebenarnya tak terpelajar dalam seni. Bukan pula sebenar ‘outsider artist’ yang bersembunyi atau terpencil dari jagad gemuruh seni rupa arus utama. Semenjak kecil, anak emas ini sudah terbiasa dengan dunia gambar menggambar, berikut seluruh dimensi artistiknya. Beberapa kali di masalalunya dia memenangi lomba lukis anak, yang menunjukkan seberapa jauh dunia artistiknya diterima oleh pengamatan umum. Bahkan di masa kuliahnya, dia juga memperoleh penghargaan yang cukup bergengsi dalam karya seni lukis terbaik. Dalam wawancara dengan saya, Bob menyatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah 70% sisi anak-anak, naluri bermainnya, baru selebihnya adalah pretensinya untuk berlaku bijak selayaknya orang dewasa. Bob lebih memilih untuk menciptakan karya-karya yang murni mengikuti naluri bermainnya. Salah satu teman karibnya sesama pelukis S. Teddy D. mengagumi ketakterputusan garis yang ditorehkannya dalam kanvas. Sebuah kepercayaan diri yang akut terhadap naluri bermain.
Raw Art menjadi salah satu aliran yang mempengaruhinya. Bob mengaku tertarik dengan raw art sebagai sebuah ‘counter attack’ terhadap keunggulan teknis serta keindahan dalam lukisan yang disepakati umum. Dengan berkarya yang seenaknya dia yakin akan bisa menolong teman-teman yang berkarya di luar kebiasaan karya seni yang terdidik dan terlembagakan. Bob tidak bisa dilepaskan dari lingkungannya dengan pergaulan sosial bersama anak-anak muda yang berkreasi, berbuat salah, nakal, dan mencoba segala hal. Di sekelilingnya Bob bermain musik dengan anak-anak muda, menjadi manajer band, menyelenggarakan even musik underground dan memberi semangat kepada anak-anak muda itu untuk menjadi diri sendiri. Baginya tidak ada karya seni yang jelek.
Dalam konteks sosial dimana industri karya seni mendominasi, Bob Yudhita Agung menyajikan sebuah budaya dan kesadaran sosial yang tak terduga. Dia memproduksi karya seni yang unik dalam dunia modern, baik dalam sisi teknis maupun filosofinya. Selain lukisan-lukisan dengan semangat bermain yang tinggi, Bob juga menggunakan media non ‘seni’ untuk lebih melibatkan isu-isu sosial, sebagai bagian dari budaya pinggiran. Diproduksinya benda-benda non seni seperti gitar, bas, objek, instalasi, dan karya patung sebagai sarana bermain-main yang melibatkan komunitas penggunanya.
Karya seni Bob adalah misal yang bagus untuk karya seni sebagai wujud yang paling pribadi dari manusia. Dunia ‘tak terdewasakannya’ menunjukkan keberadaannya yang amat partikular dengan spontanitas yang tinggi. Intuisi, pengalaman untuk sakit, bermain-main dengan tubuh, adalah bagian yang paling pribadi dari diri Bob; rasa dalam arti fisik maupun psikis. Projek pribadi atas dirinya muncul pula dalam dataran kanvas lukisan yang tak jauh-jauh merupakan catatan pengalaman psikologisnya. Untuk itu perlu memberikan perhatian lebih pada tata cara Bob dalam melukis.
Bob kerapkali disandingkan dengan dua nama pelukis Indonesia lain yang sekaligus teman dekatnya, yaitu Ugo Untoro dan S. Teddy D. Mereka dianggap mempunyai kesamaan dalam gaya hidup berkesenian dan konsep seni secara umum. Tetapi berbeda dengan Teddy pun Ugo, yang menggunakan gramatika visual seefektif mungkin untuk menampilkan sisi puitik (perhatikan lukisan Ugo atau Teddy, yang kebanyakan menampilkan ruang yang kosong dengan goresan efektif namun penuh emosi), Bob Sick lebih berkecenderungan untuk menampilkan sisi bermainnya yang kental, dengan garis-garis tegas, meliuk-liuk, dan kadang memenuhi bidang kanvas. Garis pada Bob mempunyai porsi yang sangat penting. Kebanyakan karyanya menggunakan outline warna gelap yang tegas. Garis lengkung-lengkung tak putus-putus mirip sulur-sulur tetumbuhan. Sapuan kuas besar yang menyisakan lelehan cat basah, bagai sapuan jagoan graffiti di lorong-lorong jalanan. Terkadang lukisannya amat ramai, tak ada sisa ruang kosong, semua diisi penuh dengan ornamen-ornamen yang tak tentu rimba asalnya. Tetapi pada lukisan lain, terkadang juga dibiarkan sunyi.
Beberapa lukisan diberi teks yang juga digoreskan dengan cara mengindah-indahkan teks mirip para ahli kaligrafi. Bob seringkali menuliskan statemennya dalam lukisan, baik pusi, komentar singkat, teks nama, judul dan tanggal lahirnya. Bob menggunakan kata-kata secara lepas, tanpa beban gamatika umum, dari bahasa Indonesia, Inggris, atau pun bahasa-bahasa lainnya.
Tema-tema lukisannya berkisar dari reaksi yang muncul dari dunia psikologisnya. Mulai dari tema tentang malaikat dan setan, tuhan, sakit hati, teman-temannya dan berbagai hal yang bisa dipikirkannya. Mirip dengan kata-kata yang diguyurkannya dalam kanvas, sosok-sosok manusia, makhluk aneh, objek-objek dan tumbuh-tumbuhan dalam kanvasnya seolah-olah didatangkannya begitu saja, digabung-gabungkan dengan tanpa mengikuti logika umum.
Sebuah lukisannya berjudul Statement (80 x 90 cm, 2007) menunjukkan figur manusia dengan bentuk yang janggal, dengan lidah panjang melengkung-lengkung seperti api, rambut mirip sulur, dan badan penuh dengan ornamen. Dengan menggunakan warna yang nyaris tanpa harmoni, dari warna garis yang hitam, warna merah sebagai latar, dan warna kulit yang tua kecoklatan dan beberapa garis dengan warna biru. Di samping sosok figur yang mencerminkan diri Bob tersebut tergeletak seekor ikan. Dalam lukisan ini Bob mencantumkan statemen yang berbunyi:
bob sick central
my name are
komunist
eksistensialis
muhamadent
punker
and
tatto
oism
born 26. 05. 1971
Lukisan ini menggambarkan spirit bermain-main yang tetap ada dalam mempersoalkan hal-hal yang amat serius. Kondisi bermain-main itu nampak dari penggunaan istilah yang serampangan dipakai. Ketidaktepatan penulisan kata dan komparasi yang sekenanya. Hal tersebutlah yang semakin menampakkan diri Bob sebagai seniman yang memuja peronalitas. Segala hal adalah sejauh yang dipahaminya, tidak ada kerumitan dibalik hidup yang paling kompleks sekalipun. Bahkan dalam lukisan lain, persoalan yang niscaya, semacam kematian disikapi dengan celotehan ringan: “kalah pada kehidupan, tidur panjang dalam damai abadi” (lukisan Reliji, 69 x 90 cm, 1993). Atau dalam kata-kata seperti:
setelah engkau pergi
sedih hatiku
bagaimanapun hi-
dup ini harus
di tuntaskan
sampai
nafas
terak-
hir
2007
Bob Sick Yudhita (lukisan ‘Setelah Kau Pergi’, 51 x 51 cm, 2007)

Lihatlah, dalam kepergian, perasaan sedih, bisa ‘dilagukan’ dengan begitu ringan. Hal yang sama, dilakoninya ketika dia juga secara langsung mengalami kecelakaan yang membuatnya koma sekian lama. Seolah-olah tragedi tubuh, adalah semacam permainan pula, seperti seluruh konsepsi keseniannya. Rasa sakit tubuh yang ditatto, nyeri yang konstan setelah kecelakaan, atau perasaan hancur secara psikologis adalah menu bermain yang akan muncul dalam karya-karya yang riang dan penuh dengan garis-garis tegas. Rasa sakit baginya adalah berkah, bahkan ketika dia harus menkonsumsi obat ‘paint killer’ yang justru dianggapnya sebagai jalan legal untuk menikmati obat.
Dalam konteks pameran ini, Bob menghadirkan seninya sebagai ekspresi budaya yang lain. Bukan persoalan besar, seperti politik atau sebangsanya, tetapi pameran ini diinspirasi oleh kepergian sahabatnya, mentornya, dan penyemangatnya dalam berkarya, Omi Intan Naomi. Omi, seorang penulis muda yang terlalu cepat pergi, memberi kontribusi yang cukup besar dalam jalan kesenian Bob Sick. Dalam pengkuannya via sms: “Omi adalah tempat saya bertanya dan berpendapat. Dia mengenalkan saya dengan buku-buku, internet dan banyak hal... dari semula saya tidak mengerti menjadi mengerti” (5 Februari 2007, pukul 18.58). Sebagai bentuk penghormatannya pada Omi, diabadikannya dalam bentuk tatto di tubuhnya. Sebuah cara personal Bob untuk menghargai kawan sekaligus gurunya itu.
(Rain Rosidi)