SELAMAT MALAM

Ini adalah blog untuk kumpulan catatan-catatan saya. Tanggal yang tertera di atas teks bukanlah tanggal di mana catatan itu ditulis atau dipublikasikan, tetapi itu adalah waktu saya meng upload catatan tersebut. Banyak catatan yang sudah lama yang baru saya upload dalam blog yang sempat terbengkalai ini. Sebisa mungkin akan saya terakan tanggal dan dimana catatan tersebut dipublikasikan, semampu file saya menyediakan datanya.

Rain Rosidi

Saturday, April 30, 2011

STREET-NOISE, Karya RM Soni Irawan dan Farhan Siki












A world that can be explained even with bad reasons is a familiar world. But, on the other hand, in a universe suddenly divested of illusions and lights, man feels an alien, a stranger. His exile is without remedy since he is deprived of the memory of a lost home or the hope of a promised land. This divorce between man and his life, the actor and his setting, is properly the feeling of absurdity.

Albert Camus

Pada kehidupan kontemporer, dimana dunia seni secara keseluruhan telah ter-‘administrasi’ dan ter-domestifikasi, tetap dibutuhkan seni yang berpotensi sebagai ‘social explosiveness’. Dunia modern yang selalu menertibkan setiap pemberontakan dalam disiplin pasar tetap melahirkan perkembangan kreativitas bentuk-bentuk seni yang menyisakan paradoks. Di satu sisi, keberadaan seni yang ‘tertertibkan’ itu dibutuhkan oleh pelaku seni tetapi di sisi lain, mereka juga membutuhkan situasi cair yang tidak membatasi medan kreatifnya. Galeri-galeri yang berperan besar dalam menertibkan bentuk-bentuk karya seni itu, juga pada akhirnya memberikan ruang bagi munculnya jejak-jejak dialog ketegangan antara ketertiban dunia seni modern dengan kreativitas seni dan situasi sosialnya yang ‘tak mapan’.

Melalui bentuk ‘mural’ dan grafiti misalnya, upaya menertibkan seni itu mengalami pembangkangannya. Karya seni ini lahir dari platform yang kuat untuk mereklaim ruang public dan meraih public yang lebih luas. Para aktivis juga menggunakan seni di ruang publik ini untuk melakukan kerja praksisnya. Pada dasarnya, fenomena street art yang secara massif ditandai dengan hadirnya post-grafiti dan post-mural, menjadi kesadaran beberapa seniman untuk melakukan aktualisasi kerja seninya di jalanan. Mereka dengan sengaja melakukan kerja seni yang sangat demokratis, dinikmati semua orang dan sukar untuk diboyong sebagai property pribadi para kolektor. Banyak kerja pribadi atau kelompok yang dilakukan dengan kesadaran yang berbeda-beda di ruang public. Sebagian dengan kesadaran sebagai counter atas dominasi para pemegang kebijakan atas ruang public, baik dari pemerintahan, maupun korporasi-korporasi besar. Sebagian yang lain merupakan kerja particular sebagai aktualisasi diri di jalanan.

Spirit yang demikian itu juga kemudian memasuki ruang-ruang galeri. Galeri sebagai bagian dari medan sosial seni, juga berperan memelihara dinamika hubungan antara spirit kreativitas seni yang memuja ketidakmapanan, dengan pasar seni yang mengharapkan ketertiban laku seni dan administrasinya. Tidaklah mengherankan kemudian, kalau beberapa galeri secara sadar membangun dialog itu dengan menampilkan jejak-jejak proses kreatif dan eksperimentasi seniman dalam ruang galeri, termasuk mural dan graffiti. Karya-karya itu dihadirkan bukan hanya sebagai pelengkap kehadiran karya lain yang lebih ‘tertib’, tetapi juga sebagai bagian dari laku kerja si seniman yang menjadi bagian integral dari sebuah kerja seni.

Dari sinilah ‘letupan-letupan sosial’ dari sebuah laku seni masih dapat ditengarai jejaknya. Untuk melihat bentuk-bentuk seni yang dihadirkan para seniman ini di ruang galeri, tidaklah cukup melihatnya dari bentuk-bentuk hasil akhir yang dipajang di ruangan galeri. Mereka membawa serombongan besar ‘teks-teks’ lain yang perlu dibaca sebagai bagian dari kerja seni mereka. Lukisan-lukisan dan mural Farhan Siki di ruang galeri ini, adalah sebagian kecil dari kerja yang dilakukannya di jalanan. Begitu juga dengan lukisan karya RM Soni Irawan, yang menjadi sebagian dari jejak kreatifnya di dalam mengeksplorasi berbagai medium seni, termasuk musik.

Karya-karya semacam itu, pernah dipamerkan secara bersama-sama oleh puluhan seniman Jogjakarta dalam sebuah pameran bertajuk 'Utopia Negativa' di Magelang. Di tahun 2004, sebenarnya ide membuat pameran 'Utopia Negativa' tercetuskan. Waktu itu saya mengajak Nano Warsono bertemu dengan RM Sonny Irawan, Uji Handoko, dan Krisna Widiathama. Kami memperbincangkan rencana untuk membawa karya-karya mereka ke sebuah ruang galeri. Ide awal waktu itu adalah bagaimana menampilkan karya-karya dengan kecenderungan ‘chaotic’ tapi ‘ekstaktif’ namun juga mampu merefleksikan kehidupan kontemporer dalam sebuah ruang pameran. Saya sudah menawarkan foto-foto karya mereka ke sebuah galeri ternama di Jakarta, tetapi sang empunya merasa belum tertarik dengan karya-karya itu. Untuk itu saya menunda ide memamerkan karya-karya dengan kecenderungan itu secara bersama-sama. Barulah pada tahun 2008, pameran secara bersama-sama perupa dengan watak yang sama dapat kami selenggarakan. Bahkan di dua galeri sekaligus di Jogja dan Magelang. Dari sinilah kemudian pameran-pameran bersama digagas kembali untuk menampilkan lebih jauh watak dari kecenderungan ini. Tulisan ini diperuntukan sebatas salah satu cara untuk meninjau kekaryaan dua seniman ini. Wataknya hanyalah sebagai pendamping pameran dan bukan sebuah catatan kuratorial.

JALANAN DAN KEBISINGAN

Dua orang seniman ini bisa disebut seniman yang tidak biasa anda temui di art scene Indonesia. RM Soni Irawan mengerjakan bentuk-bentuk visual yang komikal dengan figur-figur ‘aneh’ yang terkait dengan aktivitas bermusiknya, serta Farhan Siki yang biasanya mengerjakan seni jalanan (street art). Watak seni yang demikian itulah yang mewarnai karya-karya mereka.

Kita bisa memulai sebuah ilustrasi untuk menilik karya-karyanya dengan sebuah pementasan Seek Six Sick. Di atas panggung dua orang bermain gitar dengan cara yang tidak wajar. Bukan hanya lengkingan melodi dan rithm gitar yang terdengar, tetapi juga derau dan kebisingan yang ditimbulkan oleh alat-alat musik itu. Dua gitar itu saling memantulkan bunyi-bunyian yang kadang menyakitkan telinga. Sementara sang vokalis meneriakkan nada-nada yang janggal dan tak nyaman. Tapi penonton menikmati ‘kesakitan’ performa band yang menyebut aliran mereka sebagai ‘asian noise rock’ ini. Dari sini kita akan menemukan korelasi artistik RM Soni Irawan antara karya seni dengan ekspresi panggungnya.

RM Soni Irawan bukan nama baru dalam dunia seni rupa tanah air. Dengan sebuah karya grafisnya yang berjudul “Bangun dari Mimpi Buruk yang Indah”, yang menggabungkan teknik etsa dan mono-print yang rapi, RM Soni Irawan masuk lima besar kompetisi seni rupa nasional tahun 2001. Karya itu menggambarkan seraut wajah (topeng) menyeramkan yang ditempeli sebatang pistol di dahinya. Di belakangnya sebuah motif ornament yang biasa, sebagai latar belakang. Mendapatkan hadiah sejumlah uang dari panitia kompetisi, Sonny lantas menggarap sebuah kompilasi album independent berdasarkan karya grafis itu, yang melibatkan beberapa grup band independent. Album itu mungkin menjadi album kompilasi musik sebagai soundtrack karya seni grafis pertama yang dibuat di tanah air.

Dalam seni rupa, selain kompetisi tersebut, nama RM Sonny Irawan juga sempat diundang sebagai peserta Jogjakarta Biennal yang ketujuh (2003). Dalam pameran ini Soni menyertakan serangkaian karya cetaknya yang menampilkan potret dirinya pada bermacam benda, seperti t-shirt, poster, dan sebagainya sebagai gagasan untuk ‘distibute yourself’. Karya RM Soni Irawan yang menjual hasil rekaman musik dari kelompok Seek Six Sick serta menjual aksesori lainnya yang biasa dipasarkan dalam distro, yaitu toko yang mendistribusikan aksesori, pakaian, dan merchandise lokal pada konsumen remaja dan komunitas underground.

Di Jogjakarta, gerakan seni urban dengan kesadaran yang lebih besar antara seni dan persoalan kota mulai digulirkan dalam projek ‘Mural Sama-Sama’ yang digagas Apotik Komik (2002). Projek ini disadari memberi pengaruh yang besar terhadap gerakan seni di Jogjakarta. Salah satu yang utama adalah dimulainya secara lebih intensif kesadaran perupa untuk melihat aspek ruang publik dan ketegangannya dalam berkarya seni rupa. Pengaruh itu juga terdapat pada jenis-jenis karya lain, di luar mural dan graffiti. Banyak perupa muda setelah itu, yang mendapat inspirasi dari gerakan-gerakan street art dan budaya urban dalam karya mereka. Farhan Siki, salah satu yang menonjol di antara mereka, bahkan sebelumnya telah pula terlibat sebagai aktivis dalam gerakan-gerakan sosial perkotaan. Perupa kelahiran Lamongan ini termasuk pelaku street art yang intens dengan persoalan-persoalan masyarakat urban yang dijalaninya pula sebagai seorang aktivis.

Dua seniman ini mengomentari masalah kontemporer bukan dalam bentuk protest. Karya mereka menubuhkan dalam dirinya sendiri, semacam presentasi atas persoalan kontemporer masyarakat saat ini. Dari medium yang dipakai, maupun watak yang muncul dari karya-karya mereka nampak tema-tema besar kontemporer tersirat; seperti alienasi manusia atas berbagai hal; kehilangan keyakinan dan kepercayaan, sendirian, dan ketakbersahabatan. Dari jalanan yang menyimpan segudang persoalan urban, dan dari kebisingan yang lahir dari kemarahan pribadi, memunculkan gagasan-gagasan tentang manusia dengan berbagai pengabaiannya atas keyakinan yang berkembang, teknologi, rasionalitas, dan lingkungan. Dalam karya mereka, jejak optimisme terasa absurd di peristiwa dunia modern abad ini.

Dalam visualisasi, masing-masing karya mereka menunjukkan pengaruh yang kuat dari latar belakang yang masing-masing mereka geluti. Farhan Siki menampilkan sekumpulan huruf-huruf tak terbaca dan lelehan-lelehan cat yang liar senarai dengan kemampuan menggambarnya di jalanan. Sangat kentara, bagaimana spirit street art itu dalam cara dia memperlakukan kanvas. Dalam karya Soni, figur-figur dan goresan liar yang diambilnya dari bentuk-bentuk komikal nan bebas memenuhi bidang kanvasnya. Pemakaian warna-warna primer seolah-olah hendak memberikan sebuah ironi, warna-warna yang terlihat cerah dan menyenangkan itu menyimpan sesuatu yang ‘chaotic’, riuh dan bising. Bagi Soni, melukis sebagaimana dalam bermain musik, adalah sebuah pesta. Maka, setelah melihat karya seni rupa ini, anda akan melihat warna-warna kuning, biru, merah, hijau, dan warna-warna cerah lainnya dengan cara yang sangat berbeda.

Rain Rosidi


DYNAMIC DUOS Dengan FARID STEVY ASTA


Dog dog dog,

working like dog

breathing like dog

playing like dog”


Sebuah kalimat provokatif yang tertera di salah satu pembuka emailnya kepada saya. Farid sering menggambarkan dirinya sebagai seekor anjing, sebagaimana karakter-karakter dirinya dalam lukisannya. Sebuah penggambaran yang ‘raw’ terhadap cara dia merespon lingkungan sekitarnya. Farid Stevy Asta, pemuda kelahiran Wonosari, 28 tahun yang lalu ini adalah salah satu perupa yang belajar Disain Komunikasi Visual di ISI Jogjakarta. Latar belakangnya ini juga akan menarik untuk dibicarakan, karena Farid banyak mengadopsi idiom-idiom disain dalam lukisannya.

Farid memulai kerja seninya di jalanan. Dengan membuat grafiti, pada akhirnya dia lebih banyak bergaul dengan teman-teman perupa di lingkungan yang ‘bukan disain’. Salah satu seniman Jogjakarta yang menjadi influence besarnya adalah Eko Nugroho dan teman-temannya, yang dibesarkan dalam lingkungan seni lukis dan grafis (seni murni). Sebuah karyanya yang akhirnya menjadikannya berubah haluan adalah karyanya yang berupa sebuah teks yang berbunyi “The Future Starts Now”. Karyanya itu diterima dan dipamerkan dalam even Jogjakarta Biennal. Dari karya inilah, Farid mengakui perubahan haluan keseniannya. Dia merasa menemukan sebuah kerja kreatif yang lebih sesuai dengan karakter dirinya.

Rencana pameran ini dilakukan setelah pembicaraan dilakukan antara Farid, pak Dedi Irianto (Galeri Langgeng) dan saya. Waktu itu baru saja Farid menyelesaikan pameran bersamanya “Utopia Negativa” dengan beberapa seniman muda lain seperti Bambang Toko Witjaksono, Arie Dyanto, Wedhar Riyadi, Uji Handoko, dan lain-lain. Pada saat itu, Farid membawa dua buah lukisan personal dan sebuah lagi lukisan hasil kolaborasinya bersama Wedhar Riyadi dan Terra Bajragosha. Karya lukisannya berhasil mengesankan pencinta seni, dan selanjutnya saya dan pak Dedi merencanakannya untuk berpameran tunggal di Galeri Langgeng, Magelang.

FARID STEVY ASTA DAN “JOGJA AGRO POP”

Salah satu yang berkembang di art scene Jogja adalah berkembangnya kerja kreatif seni rupa yang sangat dekat dengan perkembangan budaya populernya. Anak-anak muda mengembangkan industri kreatifnya sendiri dengan bentuk-bentuk ruang dan industri alternatif, seperti distro, ruang galeri, studio, dan manajemen musik dan seni. Kerja kreatif mereka menciptakan ruang kreasi yang mempunyai kekhasan yang berbeda dengan kerja seni lainnya. Kerja kreatif mereka lebih dekat pada hobby dan gaya hidup kesehariannya. Salah satu yang sekarang sangat menonjol adalah kerja di bidang seni rupa. Dalam seni rupa, muncullah satu kecenderungan yang unik perpaduan berbagai kerja kreatif dalam dunia anak muda, seperti dari musik, disain, street art, DJing, komik, dan gaya panggung. Panggung dan pesta anak muda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan seni rupa dengan ciri ini. Dan yang terjadi pada saat ini adalah, beberapa dari mereka menerjuni dunia seni secara serius dengan mengerjakan karya-karya lukisan dan patung.

“Jogja Agro Pop” adalah sebuah istilah yang iseng ditasbihkan pada sekelompok seniman muda yang dijiwai oleh spirit gaya hidup urban tersebut. Di Jogjakarta, spirit urban ini muncul di tengah kelompok anak muda yang berada di batas yang unik antara semangat urban yang kosmopolit dengan kehidupan lokal yang masih cenderung rural. Mereka adalah generasi yang sangat sadar akan keberadaan dirinya di tengah perubahan arus global, sembari sesekali menengok keberadaan dirinya di tengah kehidupan lokal Jogjakarta. Jogjakarta bukanlah sebuah kota besar seperti dengan Jakarta, tetapi lebih menyerupai kota kecil (atau bahkan kampung besar) dengan tradisi yang kuat. Hanya saja, dari kota ini, para anak mudanya lebih leluasa untuk bermain dalam jaringan internasional, lewat medium internet, jaringan ruang seni, dan even-even seninya. Dari kampus-kampusnya, juga terjadi interaksi yang intensif dengan mahasiswa asing dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Di kota ini, kerja kreatif terus bertumbuh, dengan atau tanpa campur tangan kebijakan penguasa dan pasar mapan.

Di kota ini pula, Farid bekerja tidak hanya pada karya-karya seni yang mapan. Farid lebih akrab dengan kerja seni yang lebih didasari oleh semangat bermain dengan hal-hal yang disukainya, seperti membentuk grup band, menulisi grafiti di kota Jogjakarta, dan bersama teman-temannya mengerjakan berbagai hal kreatif. Demikian pula pada kerja disain visual yang masih tetap digelutinya. Dari sinilah, semua karya lukisannya mendapat pengaruh terbesarnya.

Benang merah dari para perupa muda ini tidak bisa ditengarai pada satu gejala visual saja, misalnya komik, grafiti atau ilustrasi. Pada komunitas pergaulan ini, ada hal-hal lain yang menghubungkan mereka di luar faktor visual, misalnya interaksi mereka dalam bidang musik. Selain itu, mereka juga dipertemukan dalam interaksi-interaksi di antara mereka yang tidak saja berupa kerja kreatif visual, tetapi juga kesamaan hobby dan pertemanan. Itulah yang menjadi spirit dari komunitas ini, yang sering disebutkan sebagai mempunyai kesamaan ‘attitude’.

FARID DAN KERJA KOLABORASINYA

Farid membagi projek pamerannya ini dalam dua sesi, sesi pertama adalah sesi kolaborasinya bersama sebelas teman bermainnya dalam dunia seni rupa. Sesi kedua adalah karya-karya pribadinya. Sesi kolaborasi itu bertemakan pasangan-pasangan legendaris yang mewarnai dunia populer.

Ide pameran ini pertama-pertama bersifat teknis dan cenderung taktikal. Farid yang walaupun pernah menjadi peserta even-even besar seni rupa di tanah air, tetap merasa sebagai pendatang dan orang yang berada di wilayah asing dalam jagad seni rupa kontemporer. Perasaannya sebagai ‘alien’ ini, kemudian memberinya ide untuk membuat pameran dengan menyertakan teman-temannya sesama art scene di Jogjakarta untuk mengusung ide kolaborasi.

Pertimbangan yang lain adalah, bahwa Farid ingin menawarkan kepada khalayak pecinta seni bahwa sebuah karya yang lahir dari seseorang individu tidak lahir begitu saja dari satu orang perorang, tetapi juga berada dalam sebuah lingkungan sosial dan kreatif tertentu. Kerja kolaborasi barangkali menyalahi prisnsip seni modern yang memuja personalitas karya. Bagi Farid, prinsip kerja ini lebih sesuai dengan kerja kreatifnya sebagai seorang disainer. Farid tidak saja menawarkan idiom visual pribadinya, tetapi menyandingkannya, dan sesekali mempertandingkannya dengan diom visual seniman lain. Prinsip yang sebangun dengan apa yang terjadi di kalangan street artist, yang dikenal dengan istilah ‘battle’. Karya seseorang bisa merespon karya seniman lain, atau justru melawan karya lainnya. Keasyikan bekerja sama ini meperkaya idiom visual yang muncul dalam karya-karya lukisannya.

Kerja ini diawali dengan berdiskusi antara Farid dengan seniman yang diajaknya berkolaborasi. Setelah itu, masing-masing pihak menentukan tokoh apa yang akan dikerjakan secara kolaborasi. Pemilihan pasangan tokoh-tokoh tersebut menyesuaikan dengan hasil diskusi dengan si seniman dan mempertimbangkan gaya masing-masing seniman. Dan hal tersebut kemudian mencerminkan kecenderungan dari masing-masing seniman. Farid menggambarkannya sebagai sebuah ‘gang bang visual’. Pesta mengeroyok ramai-ramai dirinya. Dalam pesta itu, masing-masing pihak harus ‘terpuaskan’. Untuk itu proses ini diakhiri dengan dialog terakhir untuk menentukan hasil akhir karya tersebut.

FARID STEVY ASTA DAN GAYA VISUALNYA

Farid banyak terpengaruh secara visual oleh street artist yang akhirnya dikenal dalam ranah seni kontemporer. Sebutlah misalnya, Dave Kinsey, yang kebetulan juga seorang disainer yang kemudian bekerja di medium-medium lain seperti lukisan. Sama seperti Farid, Dave Kinsey juga menggunakan idiom street art dan disain dalam lukisannya. Pada seniman ini, jejak pengaruhnya pada Farid terlihat pada penggunaan layer-layer yang bertumpuk pada bidang lukisan untuk menggambarkan kompleksitas kehidupan kontemporer.

Seniman-seniman seperti Andy Warhol, Jean Michel-Basquiat, dan Shepard Fairey menjadi influence-influence lain dalam kerja seninya. Andy Warhol dengan tatacara yang sangat berbeda dengan kerja seni sebelumnya, namun menjadi ikon seni kontemporer masakini, telah memberinya inspirasi untuk bekerja dengan idiom disain, seperti membentuk ‘factory’ yang dengan sadar memproduksi karya-karya dengan cara massal. Dari tokoh ini, Farid banyak melihat bagaimana seharusnya karya seni mucul dari semangat di luar hal-hal yang mapan.

Shepard Fairey juga menjadi salah satu seniman kesukaannya. Tokoh ini juga adalah teman dari Dave Kinsey yang lebih banyak bekerja di ranah street art. Cara seniman ini dalam menggunakan warna-warna yang minim bisa ditengarai jejaknya pada karya Farid Stevy Asta, yang cenderung monokromatik. Sebagai seorang disainer, Farid tetap mengukuhkan keberadaan dirinya lewat idiom visual yang khas. Dengan gaya yang mengingatkan figur-figur pemujaan suku Indian, figur-figur kaku dan menjulang ke atas. Warna kecoklatan sebagai layer pengikat. Suasana monokromatis. Dari segi teknis, Farid mengeksplorasi gagasan-gagasan visual dalam dunia desain, seperti pemakaian layer warna kecoklatan sebagai pengunci semua warna yang digunakannya.

Cara visualisasi yang menonjol dari karya Farid adalah pemakaian layer yang memberi kesan dimensi teknis yang ditambah dengan efek-efek lelehan cat dalam lukisannya. Dengan cara ini, Farid berhasil menghadirkan karya disainnya sebagai karya lukisan yang berbeda dengan karakter disain berbasis vector atau bitmap, karena mampu menghadirkan efek-efek yang hanya bisa dinikmati dalam warna-warna yang berbasis pigmen.

Ciri lain yang dikembangkan Farid adalah dalam hal membentuk objek lukisannya. Berbeda dengan sebagian besar seniman ilustratif yang lain, Farid membuat bentuk dalam lukisannya justru dimulai dari bidang warna terlebih dahulu. Sehingga yang muncul adalah garis-garis negarif yang terbentuk dari pertemuan-pertemuan warna-warna dan bidang-bidang bentuk. Ciri tersebut sangat kuat sehingga pengaruh-pengaruh dari seniman lain tidak begitu saja dapat ditandai pada karyanya.

Muncul dalam karyanya citra-citra binatang seperti anjing bulldog, babi, dan sebagainya yang dipergunakannya untuk membuat karakter dirinya sendiri. Karakter-karakter dirinya yang menunjukkan bagaimana dia bersikap terhadap lingkungan sekitarnya. Sebuah cara yang memunculkan emosi ‘raw’nya yang masih dibumbuinya lagi dengan figur-figur terpotong yang terkadang memunculkan batang tulang-tulangnya. Visualisasi ini terkesan kasar, namun dikembangkan dalam komposisi yang menarik untuk dilihat.

FARID STEVY ASTA DI ANTARA BELANTARA SUHU-SUHU POP

Di masakini, sebuah karya sangat sulit untuk dilepaskan dari konteks jaman dan lingkungan tempat karya dan senimannya berasal. Lingkungan tertentu menghasilkan energi kreatif tertentu pula. Dalam ranah budaya pop, nama-nama besar yang menyejarah menjadi bagian dari ikon-ikon dan monumen-monumen yang menyertai sejarah budaya manusia. Nama-nama itu menjadi bagian dari budaya masakini, berdiri tegak menjadi tanda-tanda kejayaan masalalu dan tanda-tanda untuk membaca masadepan. Ketika kita masuk dalam budaya populer itu, dalam ruangan sudah berdiri di sana, Andy Warhol dan Basquiat, Syd dan Nancy, John Lennon dan Yoko Ono, Mohamad Ali, dan bahkan Joker dan Harley Queen. Mereka berdiri menjadi monumen budaya pop yang akan terus di sana ketika kita mencoba masuk di dalamnya.

Citra-citra itu menjadi bagian dari kehidupan populer masakini. Apalagi dalam dunia visual yang digeluti oleh Farid Stevy Asta. Para tokoh ini dijumpainya dalam bentuk-bentuk citra yang seolah-olah hidup bersama berdampingan dengan dirinya dalam koridor budaya pop. Para tokoh legendaris itu direproduksi dalam jutaan citra copyannya yang tetap dikonsumsi sampai detik ini. Mereka menjadi ‘teks-teks’ yang tak pernah usai dinikmati oleh jutaan manusia. Dan Farid memilihnya dalam wujud citra-citra ikonik pasangan-pasangan pesohor yang mengisi dunia citra kontemporer. Itulah yang kemudian dimasuki Farid ketika dia mencoba mencari dasar atas idiom visualnya. Farid menggunakan citra-citra ikonik para pesohor itu sebagai cara dia untuk masuk dalam wilayah seni pop.

Duo yang ditampilkan dalam karyanya adalah juga penggambaran momen-momen yang penting dalam sejarah kehidupan masakini. Setidaknya bagi Farid Stevy Asta. Baginya, pertemuan antara Andy Warhol dan Jean Michel-Basquiat, pertemuan Mohamad Ali dan pegulat Amerika Latin, kebersamaan antara John Lennon dan Yoko Ono, dinamika pasangan Syd dan Nancy, pasangan kontroversial dalam komik Joker dan Harley Queen, tokoh animasi Beauty and The Beast, pasangan kocak Beaves and The Buthead, dua karakter robot dalam film Starwars, juga pasangan lokal Duo Kribo yang pernah mengisi blantika musik tanah air, adalah peristiwa-peristiwa penting yang menandai kehidupan kontemporer hari ini.

Menyandingkan dua tokoh dalam sebuah karya bukan sesuatu hal yang baru. Tetapi pada karya Farid, persandingan itu juga dilakukan dalam gaya visual, dan dilakukan oleh dua seniman. Dengan masing-masing seniman, Farid tidak saja menawarkan karakter tokoh yang berbeda-beda, tetapi juga medium yang dipakai. Hal tersebut memberi tawaran yang sangat menarik, karena kemudian muncul karya-karya dengan medium yang tidak biasa dilakukan oleh Farid sendiri.

Salah satunya adalah kolaborasinya dengan Wimo Ambala Bayang, yang berbasis fotografi. Dalam karya ini, Farid bertindak sebagai objek karya dan Wimo berkolaborasi sebagai fotografer.

Karya yang mengambil citra ikonik dari foto pasangan John Lennon dan Yoko Ono karya Anne Leibovitz itu diapropriasi dengan sosok dirinya dengan objek guling. Karya lain adalah persandingan antara dua karakter komik dalam serial Batman, yaitu Joker dan Harley Queen. Pasangan ini dikerjakannya bersama Bendung yang sangat kuat dalam menggarap karakter komikal.

Pilihan-pilihan duo itu menunjukkan pula pemahaman dan kedekatan emosi Farid terhadap isu-isu dan hasil-hasil produksi visual dalam dunia populer. Tidak saja “Dinamic Duos” itu menggambarkan pasangan-pasangan kontroversial abad ini, tetapi juga apa yang terjadi antara Farid dengan teman-teman kolaborasinya. Dia berperan sebagai pasangan masing-masing seniman itu, dan berusaha membuat kesan dan emosi yang berbeda di setiap kolaborasi. Kerja ini diakuinya cukup menantangnya. Farid sempat terkejut ketika mendapati hasil karya teman-temannya itu dalam melukis untuk kanvasnya. Para seniman muda itu mengerjakan karya kolaborasi yang akan direspon oleh Farid dengan sangat serius. Masing-masing menghadirkan gaya dan interpretasi yang biasa mereka kerjakan dalam karya pribadinya. Dalam kerja ini, diskusi yang dilakukan oleh Farid dan teman-temannya menjadi bagian dari proses kreatif yang utama, dan keberhasilannya tak lepas dari kedekatan emosional Farid dan teman-temannya sesama perupa. Itulah yang menjadi gambaran dari lingkungan darimana Farid dibesarkan sebagai salah satu perupa muda Indonesia saat ini.

Rain Rosidi.

Tulisan ini untuk pameran Dynamic Duos di Langgeng Gallery Magelang, 18 Desember 2008

ANTI SUPERHERO NANO WARSONO

Amerika adalah ‘luar negeri’ yang paling sering muncul di televisi kita. Bahkan di era TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia, film-film Amerika mendominasi hampir setiap acara film. Setiap sore hari, anak-anak akan menunggu di depan televisi untuk menyaksikan film-film kartun dari Walt Disney, film superhero semacam Superman, Batman, Spiderman, Fantastic Four, dan jagoan-jagoan Amerika lainnya. Begitu juga dengan film-film di bioskop. Film-film Holywood menjadi santapan sehari-hari penggemar film di Indonesia.

Marshall Mcluhan dengan konsep Global Villagenya meyakini bahwa persebaran teknologi media di seluruh dunia akan menciptakan sebuah skenario global, di mana seluruh makhluk di planet ini adalah ‘benar-benar satu keluarga’. Optimisme ini menggemakan keyakinan para modernist di awal abad 20, sebagaimana retorika kaum hippies di akhir 1960an. Akan tetapi perbedaan penguasaan teknologi yang tidak merata di seluruh dunia memberikan peluang terciptanya bentuk imperialisme baru, yaitu imperialisme budaya dan media. Ruth Pelzer memberikan argumentasi bahwa gagasan mengenai ‘global extension’ menjadi konsep kunci untuk mendiskusikan landscape media kontemporer. Kehadiran jalur-jalur media massa yang sama di berbagai negara menghasilkan lalu lintas muatan media di antara berbagai negara itu, sehingga menggerus batas-batas nasional. Erosi itu tergantung dari masing-masing negara, karena produksi dan distribusi muatan media membutuhkan kemampuan finansial yang cukup. Sebagai contoh kemudian terjadi apa yang disebut bentuk imperialism budaya dan media, dimana term globalisasi bisa disebut juga sebagai ‘Amerikanisasi’ (Glyn Davis, 2005).

Dunia imajinasi anak-anak kita juga disuguhi oleh bermacam karakter ikonik para superhero melalui komik-komik dan kartun Amerika. Disney adalah salah satu dari ‘one of the world’s most powerful media corporations’. Disney membangun citranya dengan mengambil cerita dari seluruh dunia dan mengembalikannya ke pasar global sebagai sebuah strategi untuk mebangun citra cultural Disney, yang bukan hanya sebuah korporasi Amerika, tetapi menjadi sebuah korporasi dunia (Wayne, 2003). Film-film seperti Pocahontas, Alladin, Mulan, Hunchback of Notre Dome dirilis sebagai sebuah penggambaran budaya dunia.

Di masa kanak-kanak saya, tokoh-tokoh superhero yang saya kenal adalah tokoh-tokoh superhero bikinan DC Comics dan Marvel. Superman adalah salah satu favorit saya, yang juga menjadi teman saya dalam belajar menggambar komik. Saya sangat hapal, bagaimana gesture pahlawan kota Metropolis itu saat dia sedang terbang, dengan badannya yang gagah, dan jubahnya yang berkibar. Gerakan-gerakan itulah yang saya pergunakan untuk saya tiru dalam membuat komik-komik saya sendiri. Hobby saya dalam membaca komik, terutama superhero tersalurkan oleh kesukaan bapak saya dalam membelikan oleh-oleh berupa buku komik. Walaupun kebanyakan komik bekas, tetapi kedatangan bapak saya dari luar kota selalu saya tunggu-tunggu oleh-olehnya itu.

Saya pun sempat mengalami masa-masa ‘akhir kejayaan’ komik Indonesia. Di kota Muntilan, tempat masa kecil saya, ada sebuah tempat penyewaan komik yang berlokasi di terminal bis. Di tempat itulah saya menghabiskan waktu berjam-jam setelah pulang dari sekolah. Saya sempat membaca komik-komik silat buatan Jan Mintaraga, Jair Wani, Teguh Santoso, dan sebagainya. Salah satu yang menjadi favorit saya waktu itu adalah Godam, karya Wid NS, yang segera mengingatkan saya pada tokoh Superman. Konteks lokalnya yang menjadikan komik Godam itu menarik bagi saya. Awang, identitas lain si superhero Godam adalah seorang sopir yang banyak bekerja di sekitar kota Yogyakarta. Selain itu, saya juga selalu mengikuti film-film Superman yang beredar di bioskop kota kami. Beramai-ramai, saya sekeluarga dan teman-teman diajak bapak saya menonton film-film itu. Saya ingat, pada waktu malam ujian sekolah, saya diajak bapak saya menonton film Supergirl di bioskop Kartika Muntilan.

Semenjak sekolah menengah, persinggungan saya dengan komik menjadi berkurang. Ditambah lagi kemunculan komik-komik Jepang yang berbeda dengan karakter-karakter superhero Amerika yang saya sukai. Karena berpindah-pindah tempat selama sekolah dan kemudian berkuliah, buku-buku komik saya lenyap entah kemana. Sebagian rusak karena lalainya masalah perawatan. Sebuah bendelan buku komik Superman klasik yang didapatkan oleh bapak saya di loakan turut hilang entah kemana. Padahal buku komik itu yang banyak mempengaruhi ketertarikan saya pada dunia seni visual.

Nano Warsono dan lukisan komiknya

Tiba-tiba saya bertemu kembali dengan tokoh-tokoh superhero itu dalam karya-karya lukisan teman saya, Nano Warsono. Lukisan-lukisan karya Nano Warsono terkini banyak mengambil karakter-karakter tokoh superhero Amerika itu. Saya lalu berbagi cerita dengan seniman itu. Nano pun seperti saya, sampai saat ini masih terpukau oleh keajaiban dunia cerita komik. Kami sama-sama menyukai gaya visualisasi karya komikus dari Marvel dan DC Comics, terutama yang klasik. Ketertarikan Nano yang lainnya adalah pada bagaimana komik turut mengkostruksikan siapa tokoh pahlawan dan siapa penjahat. Pada sisi inilah justru tokoh-tokoh superhero Nano Warsono menjalani fungsi kritisnya.

Setelah berjarak cukup lama dengan para tokoh superhero itu, pada masa ini, kami menjadi bersikap kritis terhadap apa yang dihadirkan di balik kehebatan para pembela kebenaran itu. Nano Warsono adalah rekan saya yang lebih mendalami persoalan komik ketimbang saya. Salah satu pengaruhnya semasa kuliah di ISI Yogyakarta adalah kelompok Apotik Komik. Kelompok ini diinisiasi oleh sekumpulan seniman yang lebih memilih media-media alternative untuk mengekspresikan karya seninya. Mereka membuat mural, komik indie, dan karya-karya seni rupa di ruang publik. Dalam bidang komik, mereka cenderung mengambil referensi komik-komik alternatif baik yang muncul di Eropa maupun Amerika, seperti Raw Comix, Zap, dan Weirdo. Komik-komik itu mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan komik-komik mainstream seperti keluaran DC dan Marvel. Komik-komik alternatif ini tidak menampilkan tokoh hero dan penjahat sebagaimana umumnya, namun lebih banyak mengakomodasi cerita-cerita yang muncul dari dunia underground itu sendiri. Seperti seks, kekerasan, anti hero, musik, dan sebagainya.

Saya mengenal Nano Warsono sebagai anak muda yang mempunyai pemikiran kritis dan berkembang dalam lingkungan seni yang bukan mainstream. Untuk itulah, saya agak takjub ketika dia mulai menunjukkan karya-karyanya yang berupa sekumpulan citra-citra superhero yang berkumpul jadi satu. Nano bersikap ambivalen terhadap komik-komik itu, mengagumi tapi sekaligus mengkritisinya. Salah satu narasi besar yang disuarakannya adalah mengenai barat dan timur. Dalam bukunya Sign Fiction (Warsono, 2009), Nano Warsono menyatakan bahwa: “realitas dunia sekarang bagi saya, terlebih dunia timur yang pernah dijajah/colonialized, banyak menginspirasi saya untuk menampilkan metafor tokoh-tokoh dari dunia superhero/komik/film Barat mamupun tokoh-tokoh fairy tales dunia Barat. (Realitas itu) menjadi isu-isu yang aktual yang dikaitkan dengan isu lokal maupun internasional yang sebenarnya bermuara pada pandangan yang skpetik Barat mengenai Timur dan sebaliknya…”

Gagasan Barat dan Timur dalam lukisan Nano mengisyaratkan bahwa dalam realitas kekinian pun kita tidak bisa kebal dari mitos-mitos keunggulan Barat. Pengalaman pahit bangsa yang pernah terkolonisasi di masa silam selalu bergaung kembali dalam bentuk-bentuknya yang bermacam-macam. Barat lah yang unggul karena mereka menemukan Timur, dan Timur dalam kondisi ini maknanya hanya bisa dipikirkan melalui kerangka induk sejarah yang diciptakan oleh Barat.

Dikotomi antara Barat dan Timur itu sekaligus menyimpan hegemoni. Dalam bukunya, Leela Gandhi menyebutkan mengenai “Theoria” (ilmu pengetahuan universal) yang dimiliki oleh Barat. Theoria ini merupakan sumur terdalam bagi suatu eksistensi, mengandaikan hadirnya sang subyek yang menyandang nama “cogito” (sang aku yang berpikir). Sejalan dengan Foucault mengenai rasionalitas Barat, maka segala sesuatu yang tak terpikirkan dalam “cogito”, hanya menjadi sinonim bagi “yang lain” (Gandhi, 1998). Asumsi keunggulan suatu budaya atas budaya yang lain mengidap hasrat penguasaan dunia. Yang ada kemudian adalah antara ‘the world and the rest’. Di luar pandangan yang total, maka yang tersisa (the rest) harus dikosongkan dari makna.

Dari konteks inilah lukisan komik Nano ditawarkan pemaknaannya. Saya menyebutnya sebagai lukisan komik. Karena lukisan Nano adalah manifestasi lain dari komik-komik yang pernah dibuatnya. Menurut saya, lukisannya adalah sepenggal komik dalam wadah satu panel. Ada karakter-karakter rekaan di dalamnya, dan ada adegan-adegan narasinya. Seringkali lukisannya menjadi penuh oleh karakter-karakter itu dan penuh pula dengan adegan interaksi di antara tokoh-tokohnya.

Saya akan memberikan tiga buah contoh karyanya untuk kita lihat bersama-sama. Saya mengambil tiga karakter superhero populer yang muncul dalam lukisan-lukisan Nano tersebut; yaitu Batman, Spiderman, dan Superman. Ketiganya adalah superhero yang paling popular dalam ranah komik dan film di dunia.

Batman

Lukisan pertama yang akan kita telaah adalah sebuah lukisan berjudul: Badman Forever (2009). Sebuah lukisan berbahan cat akrilik di atas kanvas. Dalam ingatan saya, Batman adalah seorang tokoh pembela kebenaran yang banyak bekerja di malam hari. Jiwa kelelawarnya membuatnya misterius, gelap, dan kadang-kadang menyeramkan.

Sebuah adegan perkelahian antara Batman dengan Aladin. Dalam lukisan ini, Aladin yang sedang memeluk Yasmin, terlihat sedang menerima pukulan yang sangat keras dari Batman. Di sini Batman menjadi ambigu, apakah dia seorang antagonis, ataukah protagonis? Antara penjahat dan hero tidak lagi bisa ditentukan dengan jelas.

Lukisan pertama yang akan kita telaah adalah sebuah lukisan berjudul: Badman Forever (2009). Sebuah lukisan berbahan cat akrilik di atas kanvas. Dalam ingatan saya, Batman adalah seorang tokoh pembela kebenaran yang banyak bekerja di malam hari. Jiwa kelelawarnya membuatnya misterius, gelap, dan kadang-kadang menyeramkan.

Sebuah adegan perkelahian antara Batman dengan Aladin. Dalam lukisan ini, Aladin yang sedang memeluk Yasmin, terlihat sedang menerima pukulan yang sangat keras dari Batman. Di sini Batman menjadi ambigu, apakah dia seorang antagonis, ataukah protagonis? Antara penjahat dan hero tidak lagi bisa ditentukan dengan jelas.


Spiderman

Karya yang lain adalah sebuah karya berjudul: Saving Private Blonde Hair (2009). Karya lukisan yang menggunakan bahan akrilik di atas media kanvas ini menggambarkan sebuah adegan penyelamatan seorang gadis pirang dari kejaran King Kong. Lukisan ini berdasarkan cerita Kingkong dalam film Hollywood berjudul King Kong. Anehnya dalam adegan lukisan ini terdapat pula tokoh Spiderman dan Pinokio.

Kalau dalam versi filmnya (King Kong, Peter Jackson, 2005), King Kong adalah sejenis gorilla raksasa dari Skull Island (konon merupakan sebuah pulau di dekat Sumatra) yang dipuja oleh masyarakat setempat seperti dewa. Kemudian datang sekelompok orang dari Amerika yang berhasil membiusnya dan membawanya ke New York. King Kong tersebut berhasil meloloskan diri dan kemudian mencari Ann Darrow, seorang gadis berambut pirang yang ditemuinya di Skull island sebelum dia tertangkap. Dalam adegan terakhir, King Kong membawa si gadis ke puncak Empire State Building, dan kemudian dalam sebuah adegan dramatis, King Kong tewas dihujani tembakan oleh sepasukan tentara, dengan diiringi tangis duka lara si gadis.

Dalam lukisan Nano, adegan terakhir kisah perjalanan King Kong di New York itu menjadi berbeda dari versi umum. Kita dibawa oleh Nano untuk memandang si King Kong dari sudut pandang yang sangat ‘high angle’. Sementara tokoh-tokoh yang lain, yaitu Pinokio dan si gadis berambut pirang berada dalam posisi yang dekat dengan angle kita. Dari posisi ini nampak bagaimana King Kong memperoleh posisi yang sangat ter-subordinat di antara tokoh-tokoh lainnya. Belum lagi ukuran si King Kong dalam bidang kanvas Nano, sangat kecil dibandingkan figur-figur lainnya. Biasanya Nano menentukan ukuran masing-masing karakter dalam lukisannya bukan berdasarkan hukum perspektif. Ada figur-figur yang walapun berada jauh dengan sudut pandang kita, namun berukuran lebih besar ketimbang yang berada di depannya. Nanti akan kita lihat dalam lukisan lain, bagaimana hukum perspektif ini diabaikannya. Tetapi dalam lukisan ini, si Kingkong tetap dalam keadaan yang sangat jauh dan sangat kecil. Ditambah lagi ekspresi wajah si King Kong yang terlihat konyol dan tidak berdaya.

Dalam Orientalisme Said menulis: “Orang timur dikatakan irasional, bejad moral, kekanak-kanakan, “berbeda”; jadi orang Eropa adalah rasional, berbudi luhur, dewasa, “normal”… “Dalam bahasa Cromer dan Balfour, orang Timur dituliskan sebagai ‘yang diadili’ (seperti dalam mahkamah hukum), yang dikaji dan dipaparkan (seperti dalam kurikulum), orang yang didisiplinkan (seperti di sekolah atau penjara), sesuatu yang diilustrasikan (seperti dalam buku pegangan zoology)” (Edward Said, 1978). Sebuah pandangan yang menurut Said muncul dari kerangka berpikir orang Barat. Kalau kita melihat tokoh King Kong dalam lukisan Nano, segala pandangan orientalisme Barat tentang Timur itu seperti diletakkan di bahu sang King Kong. Nano menegaskan kembali apa yang sebenarnya sudah tersembunyi dalam kisah King Kong itu. King Kong adalah makhluk yang mewakili ‘makhluk yang berbeda’ dari Timur, yang irasional, ganas, kekanak-kanakan dan perlu ditertibkan. Dan Barat adalah kecantikan yang sempurna dari si tokoh blonde yang dicintai oleh King Kong. Barat adalah sekaligus kekuatan yang mampu menaklukan si liar dari Timur.

Yang berbeda kemudian adalah tokoh Pinokio dan Spiderman dalam lukisan itu. Pinokio digambarkan sedang dalam keadaan panjang hidung, dalam arti sedang melakukan kebohongannya, dan dengan muka yang terlihat licik. Terlihat pada penggambaran matanya yang melotot, dan senyumannya yang jahat. Peran Spiderman dalam lukisan itu berada di tengah-tengah. Namun posisinya yang melirik ke arah penonton, dengan topengnya yang terkoyak memperlihatkan sisi lain dari sang pembela kebenaran itu. Apalagi di tangannya tergenggam segepok uang dolar.

Untuk mengetahui mengapa Nano meletakkan Spiderman sang jagoan itu dalam lukisan yang ‘aneh’ ini, marilah kita lihat sebuah petikan dialog yang terkenal dalam film Spiderman: "With great power comes great responsibility" (Spiderman, 2002). Dialog ini adalah ucapan sang paman sebelum meninggal dunia kepada Peter Parker (identitas lain dari Spiderman) yang kemudian dirapalkan kembali oleh sang Spiderman tatkala mengalami kegalauan perihal peran dan posisi dia sebagai manusia ‘adi’ dalam masyarakatnya. Spiderman memperoleh kekuatan supernya setelah digigit oleh seekor laba-laba mutant hasil eksperimen ilmiah. Dari gigitan itu, dia memperoleh kekuatan luar biasa yang kemudian membuatnya mempunyai tanggung jawab besar untuk membela keadilan semua orang. Yang menjadi unik dari Spiderman dibandingkan superhero-superhero lain sejenisnya adalah begitu sentralnya kegalauan Peter Paker dalam menghadapi peran dirinya sebagai manusia super tersebut. Sebuah peran yang akan mengorbankan orang-orang di sekitarnya, termasuk paman, bibi, dan yang selalu dia perjuangkan, MJ, sang gadis pujaan.

Tanggung jawab sebagai pembela kebenaran itulah yang membuat sang Spiderman melakukan campur tangan terhadap berbagai persoalan di masyarakat. Dalam konteks lukisan ini, sang Spiderman menjadi tokoh ketiga dalam perseteruan antara King Kong dan Pinokio dalam memperebutkan si gadis berambut pirang. Uang yang digenggamnya menunjukkan di pihak mana sang Pahlawan menempatkan diri, yaitu penguasa kapital. Spiderman adalah adi manusia yang berhak dan berkewajiban menjadi polisi dunia dan menyeselsaikan berbagai konflik. Dia merepresentasikan superpower Amerika. Lalu atas dasar apa dia menyatakan mana yang benar dan mana yang salah? Nano menjawabnya melalui berlembar-lembar uang dolar yang berada dalam genggaman sang superhero.

Superman dalam “I have slept for an hour, and I wake up in the ahistory land”

Lukisan ini lebih kompleks dibandingkan dua lukisan sebelumnya. Dalam panel kanvas, kita temukan lebih banyak karakter. Superman, dinosaurus, Doraemon, figur kekar berkepala emoticon Yahoo!, Semar, dan sesosok figur besar.

Kalau menengok dari judul yang diterakan oleh Nano pada karya ini, tokoh yang merepresentasikan sang ‘aku’ adalah sosok figur besar yang sedang memeluk kacang. Sosok ini adalah ‘aku’ yang baru saja terbangun dari tidur selama satu jam, yang segera mendapati dirinya berhadapan dengan dunia yang ahistoris. Lukisan ini tidak menggunakan logika perspketif biasa. Ukuran besar kecil bukan untuk mempersoalkan jarak, tetapi lebih untuk memberikan penekanan.



Superman dalam lukisan ini digambarkan sebagai sosok bermata satu dan sedang memeloti sang ‘aku’. Dia menjadi bagian dari sebuah lingkungan figur-figur yang sedang mengelilingi ‘aku’. Lingkungan yang mengelilingi ‘aku’ itu adalah ikon-ikon popular dari berbagai media, seperti ikon yahoo, tokoh kartun Jepang Doraemon, dinosaurus, dan tokoh wayang Semar.

Dalam lukisannya yang terakhir tersebut, Nano memperlihatkan sebuah public sphere baru yaitu media baru, yang begitu cepat menciptakan perubahan. Pada saat itu, dia merasa potensi untuk bertemunya beragam kultur dapat termediasikan. Tapi di sisi lain, keterbatasan dunia Timur dalam mengejar ketertinggalannya, menjadikannya sebagai sosok yang tersiksa dan memilih untuk tetap tertelungkup sambil memeluk sebutir kacang. Mungkin itu satu-satunya yang tersisa dari dunia Timur, sebutir kacang, yang anda dapat memaknainya sebagai apa saja.

Lukisan Nano menegaskan kembali frasa katagoris Timur dan Barat, dan sekaligus mempersoalkannya secara kritis. Nano Warsono melakukan ‘mockery’ terhadap barat, dengan menggunakan ‘teks’ barat yang justru untuk mengolok-olok cara pandang itu. Dalam aspek ini, Nano seperti melakukan versi lain dari ‘orientalisme’nya Edward Said. Kalau Edward Said memulai memeriksa teks-teks sastra Barat untuk melihat Timur, maka Nano membongkar teks-teks barat dalam ranah dunia komik, dan melakukan ‘oksidentalisme’ terhadapnya; timur yang memandang barat.

Daftar Pustaka:

Davis, Glyn, 2005. From Mass Media to Cyberculture dalam Exploring Visual Culture (ed. Rampley, matthew). Edinburg: Edinburg University Press.

Gandhi, Leela, 1998. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Barat (terjemahan: Yuwan Wahyutri dan Nur hamidah). Yogyakarta: Qalam.

Said, Edward W., 1978. Orientalisme (terjemahan: Asep Hikmat). Jakarta: Penerbit Pustaka.

Warsono, Nano, 2009. Sign Fiction. Magelang: Langgeng Gallery

Wayne, Mike, 2003. Marxism and Media Studies. London: Pluto Press.